ANIKSON Temi (40) belum tersadar penuh dari tidurnya saat ranjang tempat dia dan istrinya rebah berderak-derak. Ketika terbangun dan mencoba duduk, kepalanya berputar-putar memusingkan. Lantai tempat dia kemudian berpijak bergoyang kencang.
Dia mencoba berdiri, tapi kemudian terhuyung ke kiri ke kanan. Goyangan itu makin kencang, dan rumahnya kini seperti diayun-ayun. Dinding bata rumahnya mulai bengkah, lalu runtuh satu persatu di sekelilingnya.
Temi, panggilan akrab Anikson, mengumandangkan takbir saat sadar gempa mengguncang bumi. "Allahu Akkbar! Allahu Akbar!" pekiknya di tengah keremangan malam saat gempa bumi dahsyat menghajar Buol, Toli-Toli, dan sebagian besar Gorontalo Utara, Senin (17/11) sekitar pukul 01.30 WITA.
Temi lalu berteriak sekuat tenaga memanggil istri dan anak-anaknya. Dia pasrah karena ketika hendak melompat ke luar rumah, kakinya lemas, seperti tak kuat menginjak bumi lagi. "Saya hanya diam berpegangan pada ranjang di tempat tidur. Saya tidak bisa berpikir lagi." kata Temi.
Teriakan keras Temi tak dijawab istri dan anak-anaknya. Putus asa, Temi akhirnya diam di kamar, kembali menggenggam kuat ranjang tidurnya. Dia melihat tembok bata rumahnya terus berguguran. Di kamar lain, reruntuhan tembok itu menerjang tubuh dan kepala istri dan anak-anaknya.
Sebongkah bata menghajar kepala istri Temi, Nurjanah Moko (39). Nurjanah menjerit ketika darah mengucur deras dari kepalanya. Nurjanah tetap bertahan. Dia berusaha melindungi anak keempatnya yang masih berumur empat tahun.
Temi dan keluarganya terus bertahan di dalam rumah, hingga horor selama lebih kurang 45 detik itu berakhir. Saat getaran gempa mereda, Temi merangkak ke luar rumah. Sesampai di halaman, Temi menemukan istri dan anak-anaknya tergeletak mandi darah.
Rumahnya yang sudah 20 tahun terakhir ditempati roboh. Sebagian atapnya menjompah mencium tanah. "Untunglah anak saya yang pertama dan kedua tidak apa-apa. Hanya anak ketiga, keempat, serta istri saya luka di kepala kena reruntuhan tembok," ujar Temi.
"Tempat piring, lemari, televisi, dan ruang dapur sudah hancur," kata Temi. Senyum tipis tersungging. "Habis semuanya, sudah tidak ada yang tersisa," imbuhnya.
Malam itu Temi, istri dan anak-anaknya bergabung dengan ratusan penduduk Desa Limbato, Kecamatan Tolinggula, Kabupaten Gorontalo Utara yang ketakutan luar biasa. Semuanya berkumpul di sepanjang alan berbatu yang membelah permukiman transmigran lokal itu di kawasan pegunungan itu.
Semua penduduk dewasa tidak tidur hingga pagi hari. Beruntung cuaca malam itu cerah, sinar bulan menerangi daratan berbukit gunung yang dipenuhi orang-orang panik.
Pagi harinya, Temi membawa istri dan anaknya ke Puskesmas Tolinggbatan darurat, sebelum kemudian dititipkan ke rumah saudara iparnya di daerah itu. Temi lalu pulang ke desa, berusaha mengumpulkan harta benda yang tersisa.
Temi pun berharap pemerintah sungguh-sungguh memperhatikan korban gempa, termasuk dirinya. Rumahnya yang roboh sudah tak mungkin lagi dipergunakan. Kerugian material ditaksir sekitar Rp 100 juta. "Saya tak punya uang buat memperbaikinya, apalagi saya cuma petani," kata Temi.
"Saya tak tahu apa lagi yang mesti saya lakukan. Semua harus dimulai dari nol," imbuhnya. "Pemerintah kalau mau bantu, segera ke sini, biar kita merasa tenang," katanya. Hingga Selasa (18/11) desa tempat Temi dan ratusan jiwa lain tinggal belum dikunjungi satu pun aparatur pemerintah.
Camat Tolinggula Djamaluddin Buteng, yang letak rumah dinas dan kantornya hanya sekitar enam kilometer dari Desa Limbato, belum menginjak lokasi terparah di Gorontalo Utara akibat gempa ini.
Kepala Desa Limbato Yamin Handili pun ikut menyesalkan kelambanan aparat pemerintah membantu menenangkan warga. Sekitar pukul 10.00, ketika tim wartawan Tribun Manado tiba di kantor kecamatan Tolinggula, bersamaan kehadiran Yamin Handili, camat dan sekretaris camat tak ada di kantor.
Yamin saat itu hendak melaporkan perkembangan terkini dari desanya dan berniat mengambil bantuan sosial Pemprov Gorontalo yang diserahkan Wagub Gorontalo, Senin (17/11) siang. Bantuan yang diserahkan berupa sembilan sak beras seberat 180 kilogram, dan 17 karton mi instan.
Berkali-kali Yamin menghubungi camat maupun sekcam lewat telepon selulernya, tapi tidak tersambung. Akses jalan ke desa terpencil itu cukup bagus meski jalan masih berupa makadam.
Tapi transportasi kendaraan roda empat dan roda dua terhalang sungai besar sebelum Limbato. Jembatan beton di sungai ini beberapa tahun lalu roboh diterjang banjir bandang. Saat ini sedang dibangun jembatan baru.
Kendaraan roda dua dan roda empat pun dipaksa menyeberangi sungai berarus deras itu di bagian terdangkal.
Kondisi mengenaskan juga dilaporkan terjadi di Desa Papualangi, atau lebih dikenal dengan sebutan satuan pemukiman (SP) II. Letak desa ini sekitar tujuh kilometer di atas Desa Limbato. Letaknya di perbukitan dengan akses jalan yang cukup sulit dicapai kendaraan roda empat.
Sekretaris Desa Papualangi Abubakar Ibrahim, yang kemarin berada di Desa Limbato mengatakan sejumlah fasilitas umum rusak berat. Antara lain balai desa, puskesmas, dan mesjid. Belasan rumah penduduk rusak berat/ringan. (Tribun Manado/Fernando Lumowa dan Defriyatno Neke)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang