WASHINGTON, JUMAT - Krisis ekonomi AS adalah sinyal pergeseran kekuatan yang sudah mulai terjadi. Pamor AS di bidang ekonomi dan militer memudar serta Asia akan menjadi sentra manufaktur dan sektor jasa lain.
Demikian laporan dari National Intelligence Council (NIC) berjudul ”Global Trends 2015”, yang diumumkan Kamis (20/11) di Washington. NIC menyusun analisis berdasarkan survei selama setahun terhadap tren dan pengamatan para pakar, yang dilakukan para analis intelijen AS.
”Kekuatan ekonomi dan politik AS memudar dua puluh tahun mendatang. Krisis keuangan di Wall Street sekarang ini adalah tahapan awal pembentukan tatanan ekonomi global. Kekuatan dollar AS akan sama dengan lainnya...,” demikian laporan yang diumumkan agar Barack Obama mengetahui keadaan.
Thomas Fingar, Ketua NIC dan Deputi Direktur Nasional untuk Analisis Intelijen, mengatakan, pergeseran kekuatan ditandai dengan risiko tak terhindarkan berupa konflik, perang, dan perebutan sumber daya alam.
Indonesia raih kekuatan
China dan India, yang menjalankan sistem kapitalisme negara, kemungkinan bergabung bersama AS. Ini akan membentuk dunia multipolar. Posisi Rusia tak pasti, tergantung dari kekuatan energi dan pengembangan basis investasi. Iran, Turki, dan Indonesia juga sedang mencoba berebut pengaruh.
Kekayaan global juga sedang berpindah dari negara maju di Barat ke Timur Tengah, Rusia, dan Asia. Kawasan Asia menjadi pusat manufaktur yang sedang naik daun dan juga di sejumlah sektor jasa.
Pembentukan tatanan keuangan global baru terjadi lebih cepat dari yang diduga. Pertemuan kelompok G-20 pekan lalu di Washington memperlihatkan hal itu sudah mulai terjadi.
Dari AS muncul berita, jumlah penganggur yang membutuhkan jaminan sosial meningkat dan mencapai angka tertinggi dalam 16 tahun terakhir. Indeks Dow Jones (AS) juga anjlok ke tingkat terendah dalam 21 tahun terakhir. Berita kebangkrutan dan pengurangan jumlah pekerja masih mendominasi pemberitaan dunia.