BANGKOK, MINGGU - Kelompok pemrotes antipemerintah Thailand mengatakan, Minggu (23/11), mereka sedang mengumpulkan para aktivis di Ibukota Thailand, Bangkok, untuk menyatukan kekuatan dalam sebuah demo besar. Demo ini merupakan perjuangan terakhir mereka melawan pemerintah. Mereka telah menuntut Perdana Menteri Somchai Wongsawat untuk mengundurkan diri.
Kelompok pemrotes yang menamakan diri Aliansi Rakyat untuk Demokrasi (PAD), mengatakan akan berdemo dengan kekuatan 100.000 orang, Minggu malam. Hal ini dibenarkan oleh Juru Bicara PAD Parnthep Wongpuapan, Minggu.
Namun, mereka menolak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai aksi maupun waktunya. Mereka berencana akan bergerak menuju Gedung Parlemen semalaman untuk menghalangi anggota dewan bersidang keesokan harinya.
"Ini merupakan tekanan terakhir kita untuk menggulingkan pemerintah, ujar salah seorang pemrotes, Chokchuang Chutinaton (64), ketika dia bersama para pemrotes lainnya berkumpul di kompleks Kantor Kepresidenan. Pemrotes tersebut telah berada di sana sejak Agustus silam.
Mereka menuduh Somchai sebagai perpanjangan tangan mantan PM Thaksin Shinawatra, yang tidak lain adalah saudara iparnya. Sebelumnya, Thaksin terjungkal akibat kudeta militer tahun 2006. Saat itu, Thaksin dituduh melakukan korupsi dan melakukan penyalahgunaan kekuasaan.
Kelompok pemrotes sendiri telah diserang beberapa kali dengan bom berdaya ledak kecil dan granat, termasuk ledakan yang terjadi Kamis, yang menewaskan satu orang, dan melukai 29 orang. Dan ledakan lainnya, Sabtu, yang melukai delapan orang. Tidak ada satu pun yang mengaku bertanggung jawab terhadap ledakan ini.
Militer Thailand mengatakan, pihaknya telah menurunkan lebih dari 2.000 tentara, Minggu, untuk mengantisipasi tindak kekerasan. Juru Bicara Angkatan Udara Kolonel Sansern Khaewkamnerd mengatakan, polisi akan bertanggung jawab menjaga situasi tetap terkendali. Namun, Angkatan Darat tetap bersiaga, berjaga-jaga jika polisi membutuhkan bantuan. Sementara itu, kepolisian mengatakan, 2.400 personel polisi akan ditempatkan di luar Gedung Parlemen, yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari Gedung Kepresidenan.
Sebelumnya, hampir 100.000 pemrotes berdemo menuju Gedung Parlemen, 7 Oktober silam, dan sempat diwarnai dengan aksi baku hantam antara pemrotes dan polisi. Akibatnya, dua orang meninggal, dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa ini merupakan aksi tindak kekerasan politis terburuk dalam lebih dari satu dekade terakhir.
PAD, termasuk kelompok pendukung raja, masyarakat urban kelas menengah, dan kaya raya, serta serikat aktivis, mengatakan, sistem elektoral Thailand rentan terhadap pembelian suara. Mereka mengatakan, mayoritas penduduk d i daerah pinggiran massa utama Thaksin tidak terlalu berpengalaman dalam menggunakan hak suaranya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang