Sial Betul! Digerebek Warga Saat Mesum

Kompas.com - 24/11/2008, 09:27 WIB

PALEMBANG, SENIN - Warga Jalan Swadaya RT 47 RW 13 Kelurahan Srijaya Kecamatan Alang-alang Lebar Palembang menggrebek Hasasi (25) dan Riska (18). Minggu (23/11) siang. Keduanya tertangkap basah melakukan hubungan suami istri di sebuah rumah di lingkungan
tersebut.

Warga yang marah lalu menghubungi kantor polisi dan menuntut agar keduanya melakukan cuci kampung. "Yang punya rumah ini sedang naik haji, ya Pak Ansori. Terus anaknya yang menunggu rumah ini sedang praktek kerja lapangan di Padang. Lah terus kok ada orangnya," kata Hasanuddin, salah satu saksi mata kepada Sripo.

Menurutnya, kedua pasangan muda mudi yang sedang dimabuk asmara itu merupakan orang pendatang. Mereka juga awalnya sempat curiga
beberapa kali, si pria sering bertandang ke rumah tersebut. Namun baru kali ini tertangkap basah oleh warga.

Pasangan tersebut adalah Hasasi yang berdomisili di Desa Sedongkok Betung Banyuasin dan merupakan anak seorang toke karet di desa tersebut. Kemudian Riska, berdomisili di Desa Pelnas Betung Banyuasin sekaligus pelajar SMA Muhammadiyah di Palembang.

Sadit, Ketua RT setempat mengatakan bahwa dia tidak menghendaki adanya kejadian tersebut di kampungnya. "Kita juga sebenarnya merasa malu sampai kecolongan seperti ini, tetapi ini sudah terjadi. Kita warga kampung meminta pada keduanya untuk cuci kampung," kata Sadit yang dijumpai di Mapolsekta Sukarami Palembang.

Sementara itu Hasasi alias Ujang mengatakan bahwa dia memang berpacaran dengan Riska. "Kami sudah dua tahun menjalin hubungan dan memang kebetulan saya sedang main ke Palembang. Saya akan bertanggung jawab kepadanya," kata Ujang.

Menurutnya, dia khilaf melakukan semua hal itu dan juga sebenarnya tidak mau melakukannya. Dia sangat menyayangi dan mencintai Riska serta tidak mau menghancurkan masa depan Riska.

Sedangkan Riskan terus saja menangis sejak kepergok oleh warga. Bahkan dia terus berujar hendak bunuh diri jika ada yang melaporkan perbuatannya tersebut kepada kedua orangtuanya di Kampung. "Saya mau bunuh diri, tolong jangan beritahu orangtua saya," kata Riska terus menangis.

Sementara itu Kapolsekta Sukarami, AKP FX Irwan Arianto, SIK didampingi Wakapolsek, Iptu Armansyah mengatakan bahwa orantua
dari keduanya akan dipanggil. "Kita akan memanggil orangtua mereka dan selanjutnya diserahkan. Apakah nanti akan dinikahkan atau tidak itu urusan kedua orangtuanya. Kita tadi mengamankan mereka agar tidak diamuk warga," kata Armansyah.

Pantauan di lokasi kejadian ratusan warga berkumpul. Mereka terus meneriaki keduanya dengan kata-kata yang menyakitkan dan terdengar sangat tidak mengenakan. Caci maki terus dilontarkan. Tampaknya warga sangat marah atas kelakuan bejat keduanya.  (Yusnitasari)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau