Empat Bocah di Cilacap Tewas Terseret Ombak

Kompas.com - 24/11/2008, 20:28 WIB

CILACAP, SENIN - Herman (10) dan Triyono (8), siswa Sekolah Dasar Negeri 01 Karangpakis, Kabupaten Cilacap, ditemukan terdampar dalam kondisi tewas di sekitar Pantai Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, Senin (24/11), pukul 05.45.

Mereka adalah korban terakhir yang berhasil ditemukan Tim Search and Rescue Daerah Cilacap, dari dua korban tewas lainnya, yakni Kunto (7) dan Ilham (9). Mereka tewas akibat terseret gelombang laut setinggi dua meter saat bermain di Pantai Karangpakis, pada Sabtu kemarin.

Sementara itu di Kabupaten Kebumen pada Senin sore kemarin, sekitar pukul 14.00, tiga anak di Desa Sidamukti, Kecamatan Adimulyo, juga tersambar petir. Salah satunya tewas dengan kondisi tubuh terbakar hingga gosong, yakni Riadi (11).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, empat bocah yang terseret gelombang tinggi, langsung dimakamkan oleh keluarganya setelah ditemukan oleh Tim SAR Cilacap. Menurut salah seorang anggota Tim SAR Cilacap, Martoyo, keempat bocah itu tewas akibat terseret ombak karena tak sempat menghindar dari terjangan gelombang laut setinggi dua meter.

Saat itu, kebetulan mereka pulang sekolah lebih cepat dari biasanya, pada pukul 10.00. Sambil menunggu sampai pukul 12.00 seperti biasanya waktu pulang sekolah, mereka bermain di Pantai Karangpakis. Mereka ikut mengajak seorang temannya yang kini masih selamat, yaitu Badri yang duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah Maarif Nusawungu.

"Beruntungnya, Badri bisa melarikan diri dari terjangan gelombang laut itu," ucap Martoyo.

Martoyo yang juga ikut menjadi saksi dari kejadian itu mengatakan, dirinya langsung melaporkan kejadian tersebut kepada Tim SAR Cilacap lewat radio komunitas. Dengan ikut melibatkan Tim SAR Kebumen, mereka menyisir sepanjang Pantai Cilacap dan Kebumen.

Setelah melakukan pencarian satu hari, korban pertama yang ditemukan adalah Kunto, yang ditemukan pada Sabtu malam di Pantai Banjarsari atau dua kilometer sebelah timur Pantai Karangpakis. Korban selanjutnya adalah Ilham yang ditemukan di Pantai Karangpakis pada Minggu malam, sekitar pukul 21.15.

Sementara itu, Riadi yang tewas tersambar petir di Kebumen, hingga Senin malam masih disemayamkan di rumah orang tuanya Heri Wahyudi (45), di Dusun Panunggalan, Desa Sidamukti, Kecamatan Adimulyo. Dua anak lainnya yang ikut tersambar petir, Indriyanto (15) dan Indrawan (15), dirawat di Bangsal Lukas, Rumah Sakit Pius Palangbiru, Gombong, Kebumen. Keduanya menderita luka bakar serius.

Menurut petugas Satuan Polisi Pamong Praja Kecamatan Adimulyo, Wiyuli, ketiga anak itu diperkirakan tersambar oleh petir yang sama. Hanya mereka berada di tempat yang berbeda, berjarak sekitar satu kilometer.

Ketika itu, Riadi sedang mengantarkan jas hujan untuk ibunya yang sedang menanam padi di sawah. Indriyanto dan Indrawan yang merupakan saudara kembar, sedang dibonceng ayahnya dengan motor untuk les ke SMP Adimulyo. "Anak-anak itu tersambar petir, tetapi orangtua mereka tetap selamat. Padahal mereka sedang berdekatan dengan orangtua mereka masing-masing," tutur Wiyuli.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau