KUWAIT CITY, SENIN - Kuwait meminta Indonesia menyiapkan 12.000 perawat untuk memenuhi kebutuhan tenaga medis di negara tersebut. Permintaan itu disampaikan asosiasi perusahaan perekrutan tenaga kerja di Kuwait kepada Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) setempat.
"Ini kerja besar untuk tahun 2009 yang harus dipenuhi," kata Kepala BNP2TKI, Moh. Jumhur Hidayat seusai bertemu Direktur Eksekutif Ashkanani Corporate Fadel Mohammed Al Sharaf di Kuwait City, Kuwait, Senin (24/11). Ashkanani merupakan satu-satunya asosiasi perusahaan perekrutan tenaga kerja asing di Kuwait.
Jumhur mengatakan bahwa Fadel mensyaratkan perawat dari Indonesia harus memiliki spesifikasi keterampilan keperawatan yang memadai dan mampu berbicara dalam bahasa Inggris atau Arab. Ia berusaha memenuhi permintaan tersebut dan akan menghubungi Departemen Kesehatan dan berbagai sekolah tinggi atau akademi keperawatan di seluruh Indonesia untuk mengisi peluang tersebut.
Calon perawat yang didapat kelak akan diberi pelatihan kemampuan berbahasa Inggris atau Arab yang baik sehingga dapat bekerja secara optimal. Ia optimistis bisa menyelenggarakan pelatihan bagi para calon perawat itu apalagi ada bantuan dari Kementerian Negara BUMN dan sejumlah BUMN untuk melakukan pelatihan dengan biaya yang diambil dari dana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility).
Selain membicarakan soal peluang tenaga rawat untuk dikirimkan ke Kuwait, dalam pertemuan yang dihadiri Duta Besar Indonesia untuk Kuwait dan Bahrain Faisal Ismail dan sejumlah pejabat kedutaan serta pimpinan Legal Group (pihak pengacara TKI di Kuwait) itu juga dikemukakan soal perlindungan terhadap TKI.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang