Harga Beras Di Palembang Mulai Melonjak

Kompas.com - 25/11/2008, 20:28 WIB

PALEMBANG, SELASA - Harga beras kualitas menengah-baik di Palembang melonjak rata-rata Rp 500 per kilogram. Ini terjadi karena ada penurunan pasokan dari petani akibat banjir yang melanda sejumlah sentra pertanian padi di Sumatera Selatan. Selain itu, juga dipicu ulah pengepul yang memanfaatkan situasi krisis dengan memainkan harga.

Pantauan Kompas di Pasar Cinde dan Pasar 16 Ilir, Selasa (2 5/11), harga beras kualitas medium jenis IR-64 dan C-4 berkisar Rp 5.000-5.100 per kilogram, atau naik dari Rp 4.500 per kg. S edangkan harga beras kualitas baik jenis Patin naik dari Rp 6.000 menjadi Rp 6.500-6.600 per kg.

Menurut Nuradi (43), pedagang sekaligus pemilik kios Nur di Pasar 16 Ilir , kenaikan harga ini terjadi sejak sepekan terakhir, seiring dengan menurunnya pasokan beras di pasar tradisional.

Di hari biasa, Nuradi selalu mendapatkan pasokan beras minimal 200 kilogram per tiga hari. Setiap hari, Nuradi bisa menjual rata-rata 50 kilogram kepada konsumen langsung maupun pengecer.  

Namun sudah seminggu pasokan pengepul turun 50 persen, rata-rata 100 kilogram. Harganya juga sudah dinaikkan, kata Nuradi .

Heryani (39 ), pedagang lainnya di Pasar Cinde menambahkan, kenaikan harga terutama terjadi pada beras kualitas menengah (medium) dan kualitas baik. Sedangkan harga beras kualitas bawah relatif stabil atau di kisaran Rp 3.000-3. 200 per kilogramnya.

Selain karena adanya penurunan pasokan dari petani, Heryani menduga lonjakan harga beras juga terjadi akibat permainan harga dari pengepul yang ingin memanfaatkan situasi krisis global.

Gagal panen

Saat dikonfirmasi, Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sumatera Selatan Jhum Perkasa menjelaskan selama periode akhir tahun memang selalu terjadi penurunan pasokan beras ke pasar tradisional. Ini karena sebagian besar petani di Sumsel masih memasuki masa tanam padi.

Di sisi lain, penurunan pasokan juga terjadi karena sebagian petani mengalami gagal panen akibat bencana banjir dan pasang. Gagal panen ini terutama dialami petani yang menanam padi di sawah lebak rawa atau sawah pasang surut .  

Berbeda dengan sawah irigasi, petani yang menanam di sawah lebak tidak bisa mengontrol ketinggian air irigasi. Karena huja n terus mengguyur, maka banyak tanaman yang mati terendam air, kata Jhum .

Berdasarkan data KTNA Sumsel, sentra pertanian padi yang cukup parah terkena dampak banjir di antaranya ada di Kabupaten Banyuasin, Ogan Ilir, dan OKU Timur . Lebih dari 200 hektar lahan sawah lebak di sentra padi tersebut rusak akibat banjir.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau