Pembunuhan Kennedy Hantui Kubu Obama

Kompas.com - 27/11/2008, 10:51 WIB

WASHINGTON, KAMIS — Rakyat Amerika menggambarkan Presiden John F Kennedy (JFK) yang tewas ditembak pada 45 tahun silam sebagai presiden muda dan tokoh yang mampu membangkitkan semangat.

Presiden AS terpilih, Barack Obama, sering dibandingkan dengan mendiang JFK yang ditembak mati di Dallas, Texas, pada 1963, karena cita-citanya yang tinggi dan kharismanya.

Pidato Obama yang memukau, ketinggian intelektualnya, umurnya yang relatif muda, dan kurang pengalaman politik telah dilihat banyak orang sebagai pencerminan langsung dari JFK. Bahkan, keluarga mereka yang memesona dan kekaguman dari seluruh dunia merupakan batu ujian bagi daya tarik Obama ataupun JFK.

Namun, sifat Obama dan kemenangannya yang bersejarah sebagai presiden AS pertama keturunan Afrika telah membuat banyak orang merasa khawatir terhadap berbagai potensi ancaman terhadap keselamatan jiwanya.

"Ia menggugah ilham, tokoh bersejarah, dan presiden Amerika-Afrika pertama, tetapi juga ada karena memiliki potensi memicu kerusuhan sosial yang menjadikannya pula sebagai target," kata Scott Stuart, analis keamanan dan teror senior untuk Stratfor, sebuah penerbit majalah kajian intelijen geopolitik.

Bukan hal baru

Ancaman terhadap Obama bukanlah suatu hal yang baru dalam kehidupan politik Amerika. Empat presiden Amerika dibunuh, yakni Abraham Lincoln pada 1865, James Gartfield pada 1880, William McKinley pada 1900, dan JFK.

Adik Presiden Kennedy, Robert Kennedy, dan pemimpin hak-hak sipil Martin Luther King keduanya ditembak mati pada 1968. Juga terjadi upaya pembunuhan terhadap Andrew Jackson, Theodore Roosevelt, Franklin Roosevelt, Gerald Ford, dan Ronald Reagan.

"Bukan hanya JFK, pembunuhan terjadi pada Bob Kennedy dan Martin Lurther King. Kita memiliki sejarah kekerasan terhadap para pemimpin yang memberikan inspirasi di AS," tutur James Thurder, profesor pemerintahan di American University kepada AFP, Kamis (27/11).

Thurder mengatakan, ia ingat betul saat Kennedy bersaudara dan King dibunuh dan mengungkapkan kesamaan antara saat itu dan sekarang. "Saya ingat betul saat dan kesamaannya, pengecualiannya adalah Obama lebih membangkitkan semangat ketimbang Kennedy dalam hal memengaruhi orang dan mengajak mereka dari Partai Republik untuk memberikan suara kepada Demokrat," imbuhnya. "Dalam beberapa hal lebih bersejarah, dalam pengertian Obama adalah warga Amerika keturunan Afrika."

Obama mendapat perlindungan paling awal dari Dinas Rahasia bagi seorang calon presiden pada Mei 2007, 18 bulan sebelum pemilihan presiden, akibat munculnya berbagai ancaman dan sangat banyak orang yang tertarik pada kegiatan kampanyenya. Bekas saingan beratnya, Hillary Clinton, sudah mendapat perlindungan Dinas Rahasia berkat kedudukannya sebagai mantan Ibu Negara.

Hillary Clinton mendapat kecaman luas pada Mei tahun ini ketika menyatakan pembunuhan Bob Kennedy pada Juni 1968 membuat dirinya mengambil keputusan untuk tetap bertarung dalam pemilihan pendahuluan hingga Juni. Dia segera menyatakan penyesalannya atas berbagai komentarnya, dengan mengemukakan sebagai pendapat pribadi bahwa dia merasa yakin jiwa Obama dalam bahaya.

Perlindungan keamanan Obama

Begitu Obama mulai muncul sebagai calon utama, ia sebenarnya berhak mendapat perlindungan dengan tingkat yang sama seperti presiden karena ancaman itu dan pencalonan seorang keturunan kulit hitam tak pernah terjadi sebelumnya. "Mereka begitu memperhatikan ancaman itu sehingga ia mendapat perlindungan keamanan yang lebih besar ketimbang para calon lainnya," kata Stuart.

Dua komplotan sudah digagalkan, di Colorado dalam konvensi Partai Demokrat dan baru-baru ini di Tennessee, tempat dua aktivis pendukung supremasi kulit putih ditahan karena menurut pihak berwenang mereka akan melakukan serangkaian perampokan bersenjata dan pembunuhan 88 orang kulit hitam, dengan serangan bunuh diri atas Obama sebagai puncaknya.

Tingginya tingkat penerimaan terhadap Obama, yakni sekitar 70 persen sebelum ia berkantor di Gedung Putih, juga menjadi sumber kecemasan. "Ia betul-betul mendapat simpati rakyat Amerika," kata Allan Lichtman, profesor sejarah pada American University, mengomentari tingginya harapan rakyat. "Namun, kita semua waspada atas bahaya yang berasal dari itu, khususnya untuk pertama kali seorang Amerika-Afrika menjadi presiden."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau