BOJONEGORO, JUMAT- Pihak Kepolisian Resor Bojonegoro, Jawa Timur, menyatakan siap mengawal pendistribusian pupuk bersubsidi dari gudang pupuk Pusri ke berbagai wilayah Bojonegoro.
Pengawalan dilakukan untuk menghindari terulangnya penghadangan truk pengangkut pupuk bersubsidi oleh masyarakat, seperti terjadi di Desa Sumberrejo, Kecamatan Sumberrejo, Kamis kemarin. Sedangkan penghadangan itu dilakukan karena petani kesulitan membeli pupuk. Mereka lalu menghadang truk untuk membeli pupuk secara paksa.
"Kami sudah mengimbau kepada distributor pupuk di Bojonegoro yang akan mendistribusikan pupuk, agar mengajukan permintaan pengawalan ke Polres," kata Kapolres Bojonegoro, AKBP Agus S. Hidayat, Jumat (28/11).
Dia menegaskan, dalam musim tanam sekarang ini, terjadinya kelangkaan pupuk menciptakan kerawanan yang bisa memicu tindakan diluar kendali. Karena itu, polisi berusaha melakukan koordinasi ke berbagai pihak, untuk mengantisipasi terjadinya gejolak sosial di kalangan petani yang kesulitan mendapatkan pupuk.
"Yang jelas, kami siap melakukan pengawalan kalau ada permintaan dari distributor," katanya menegaskan.
Dihutungi terpisah, Kepala Dinas Pertanian Bojonegoro Parwoto menjelaskan, memasuki musim hujan ini yang puncak musim tanamnya akhir November hingga awal Desember ini, Bojonegoro diperhitungkan masih kekurangan pupuk urea 13.600 ton dan phonska 15.700 ton.
Sementara itu, stok jatah pupuk di Bojonegoro yang belum didistribusikan oleh distributor di Bojonegoro, untuk pupuk urea hanya tinggal 3.000 ton, termasuk pupuk phonska jatah yang tersisa sangat minim.
"Saya tidak tahu yang akan terjadi, kalau kekurangan pupuk urea juga lainnya itu tidak bisa diperoleh petani," katanya menjawab pertanyaan. Namun, kekurangan pupuk bersubsidi pada musim tanam sekarang ini sedang menjadi pembahasan pemerintah untuk dicarikan jalan pemecahannya.
"Sekarang ini pemerintah sedang rapat membahas terjadinya kelangkaan pupuk," katanya menambahkan.
Lapor ke Mentan
Sementara itu, Bupati Bojonegoro Suyoto telah melaporkan penghadangan truk bermuatan pupuk urea enam ton milik distributor UD Indonesia Subur yang dilakukan masyarakat di Desa Sumberrejo, Kecamatan Sumberrejo, Kamis (27/11) lalu, kepada Menteri Pertanian, Anton Apriantono.
Dalam laporannya disebutkan, masyarakat yang menghadang pupuk tersebut, membeli paksa pupuk urea sebanyak enam ton yang seharusnya akan dimanfaatkan untuk operasi pasar di Desa Tlogoagung, Kecamatan Kedungadem dengan harga sesuai harga eceran tertinggi.
Selain itu, Suyoto juga meminta penambahan pupuk bersubsidi, karena dikhawatirkan kalau petani di Bojonegoro gagal tanam akan memunculkan gejolak sosial. Sebab, sebelum ini para petani di Bojonegoro juga mengalami gagal panen, akibat areal tanaman padinya rusak diterjang banjir luapan Bengawan Solo, pada musim hujan yang lalu.
Penghadangan truk pengangkut pupuk sebelumnya juga dilakukan para petani di Ngawi setelah dua pekan gagal mendapatkan pupuk.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang