Mesum di Siang Bolong, Mahasiswa Digerebek

Kompas.com - 29/11/2008, 11:04 WIB

BANJARBARU, SABTU- Romi (20) dan Juli (18), keduanya nama samaran, mungkin tak pernah mengira gaya pacarannya yang kelewat batas akan diketahui warga dan bahkan direkam dengan ponsel. Tapi itulah yang terjadi pada hari Jumat (28/11) kemarin.

Siang itu, sekitar pukul 12.00, sejoli yang berstatus sebagai mahasiswa itu asyik masuk di kamar kostnya di Kampung Tunggal Gag Budaya Jalan Kemuning Ujung, Banjar Baru, Kalimantan Selatan. Rupanya, perbuatan itu diketahui sejumlah orang yang tengah bersiap sembahyang Jumat.

Sejumlah warga mengaku melihat kedatangan Juli menggunakan sepeda motor spin ke rumah kontrakan Romi. Sampai setengah jam, pasangan itu tidak keluar, dan pintu malah tertutup rapat.

Curiga, seorang warga kemudian mengajak warga lain untuk mengintip kamar kos di rumah yang dihuni empat lelaki itu. Dari celah jendela, mereka menyaksikan Romi dan Juli asyik masyuk.

Warga pun marah dan mendobrak pintu kamar kos yang dihuni empat orang lelaki. Keruan saja Romi, mahasiswa semester V sebuah perguruan tinggi negeri dan Juli yang mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta itu kaget bukan kepalang. Juli yang berwajah imut dan berkulit putih ini cepat-cepat menarik celana dalamnya. Begitu pula dengan Romi.

"Kami sudah curiga mereka pasti berbuat mesum. Namun untuk memastikan itu kami terpaksa mengintip lewat celah jendela. Ternyata benar. Keduanya lagi telanjang bulat, bahkan lagi ‘main’," kata Adi (23) dibenarkan juga oleh Fahmi (24) warga setempat yang turut melakukan penggerebekan.

Penggerebekan ini membuat seisi kampung gempar. Warga yang emosi sempat memukul Romi yang dinilai mencemari kampung mereka. Untung Petugas Kepolisian Resor Kota Banjarbaru cepat datang, sehingga keduanya tidak babak belur dihajar warga. Di antara warga yang melakukan penggerebekan, ada yang sempat merekam pasangan itu saat sedang ketakutan.

Petugas langsung membawa pasangan itu ke markasnya. Bersama sejoli itu, petugas juga membawa tiga orang teman Remi, yang sama-sama tinggal di rumah kontrakan tersebut.

Kepala Kepolisian Resor Kota Banjarbaru Ajun Komisaris Besar Zuhdi B Arrasuli melalui Kepala Satuan Reserse Kriminal Ajun Komisaris A Koko Prabowo, membenarkan telah mengamankan sejoli yang digerebek warga. "Kita akan memberikan pembinaan dan memanggil kedua orangtua sejoli," ujar Koko.

Saat diperiksa penyidik, Juli tampak syok. Dia terus menangis sambil menutupi wajahnya. "Kami sudah tiga bulan pacaran, "ucapnya.

Acil (40) warga setempat, mengaku sering melihat Juli yang biasa lalu lalang menggunakan sepeda motor Spin mendatangi rumah kontrakan pacarnya.

"Gadis itu memang sering datang ke kontrakan pacarnya di sini. Pantas saja mereka digerebek karena memang sudah sering ditegur, karena bertamu sampai larut malam," ucapnya.

Rekaman dihapus

Berkait dengan rekaman adegan Romi-Juli yang sedang ketakutan, polisi menyatakan sudah menghapusnya setelah diserahkan kepada polisi. "Rekaman itu sudah kita hapus. Ini untuk menghindari penggandaan," ucap seorang penyidik Polresta Banjarbaru.

Salah seorang warga yang sempat melihat rekaman itu mengatakan, "Si wanitanya sempat menarik celana dalamnya, tapi dia lupa menutupi bagian dadanya. Kemudian si perempuan langsung menutupinya dengan kain sprei kasur," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau