Presiden India Terpesona Pura Taman Ayun

Kompas.com - 29/11/2008, 13:35 WIB

DENPASAR,SABTU-Presiden India Pratibha Devisingh Patil beserta 60 anggota rombongan mengunjungi objek wisata sekaligus tempat suci umat Hindu, Pura Taman Ayun, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung dalam serangkaian kunjungan resminya di Indonesia, Sabtu (29/11).

Bupati Badung Anak Agung Gede Agung menyambut kedatangan rombongan tamu negara itu sebelum memasuki kawasan suci itu untuk menjalani prosesi ritual "biya kala" yakni suguhan "Segehan Agung".

Tamu negara dan rombongan begitu memasuki kawasan Pura Taman Ayun yang berjarak 21 km Utara Denpasar disambut dengan tari Rejang Dewa dan baris tombak yang dibawakan oleh puluhan putra-putri yang belum menginjak remaja.

Presiden yang mengenakan pakaian khas "sari" warna putih kombinasi selendang warna kuning itu selanjutnya mengikuti persembahyangan sesuai tata cara agama Hindu di Bali dipimpin oleh seorang pendeta.

Presiden Pratibha Devisingh Patil duduk di atas kasur ukuran kecil mengikuti persembahyangan secara khusuk bersama ratusan masyarakat setempat.

Rombongan tamu negara yang tiba pukul 10.05 Wita dalam kunjungannya selama satu jam di Pura Taman Ayun itu sempat menanam pohon manggis dan menaburkan bunga sebagai penghormatan kepada tumbuh-tumbuhan.

Kawasan suci Pura Taman Ayun seluas 4 hektar dikelilingi kolam besar dengan pertamanan yang tertata apik, warisan Kerajaan Mengwi yang pernah mengalami kejayaan pada abad XVII silam.

Kerajaan Mengwi kini masuk wilayah kabupaten Badung, pernah menguasai hampir seluruh daratan Pulau Bali bahkan sampai Blambangan, Banyuwangi.

Sejumlah bangunan suci berupa "Meru" sisa-sisa kejayaan Kerajaan Mengwi masih kokoh dan tegar hingga sekarang dan sempat membuat Presiden India beserta rombongan terpesona.

Sejarah asal-usul Pura Taman Ayun erat kaitan dengan berdirinya kerajaan Mengwi pada tahun 1627. Pura besar itu dibangun waktu pemerintahan raja Mengwi yang pertama, I Gusti Agung Ngurah Made Agung yang kemudian bergelar Ida Tjokorda Sakti Blambangan.

Pura ’Paibon’ atau Pedarman dari keluarga raja Mengwi untuk memuja roh leluhur oleh pemerintah Indonesia, khususnya Departemen Kebudayaan dan Pariwisata merupakan salah satu dari tiga kawasan di Bali diusulkan menjadi warisan budaya dunia (WBD).

Dua kawasan lainnya masing-masing kawasan persawahan yang berundag-undag di Jatiluwih, Kabupaten Tabanan dan kawasan sepanjang Sungai Pekerisan di Kabupaten Gianyar.

Presiden India Pratibha Devisingh Patil dan rombongan tiba di Bali Jumat malam (28/11) guna memulai kunjungan kenegaraan di Indonesia hingga 3 Desember mendatang. Rombongan tamu negara akan meninggalkan Bali menuju Jakarta Minggu pagi (30/11) untuk meningkatkan hubungan dan kerjasama RI dengan India terutama di bidang politik, ekonomi, perdagangan, investasi dan pariwisata.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau