Relasi India-Pakistan Memburuk

Kompas.com - 02/12/2008, 05:48 WIB

NEW DELHI, SENIN - Serangan teroris ke Mumbai, India, yang terjadi hari Rabu hingga Jumat lalu telah memperburuk relasi dua negara tetangga di Asia Selatan, India dan Pakistan.

”Serangan teroris itu kemunduran pada proses normalisasi dalam hubungan antara India dan Pakistan karena semua pelaku berasal dari Pakistan,” kata Menteri Negara Urusan Eksternal India Anand Sharma di New Delhi, Senin (1/12).

Pernyataan Sharma itu senada dengan tekad partai berkuasa India, Partai Kongres, untuk mengambil tindakan tegas pada Pakistan. Juru bicara partai, Jayanti Natarajan, menegaskan, pihaknya akan mengirim pesan tegas kepada Pakistan terkait dengan serangan dari wilayah Pakistan itu. Namun, Jayanti tak menjelaskan lebih lanjut tindakan tegas India itu.

Sharma menegaskan kembali agar para pemimpin Pakistan kali ini harus memenuhi janji bahwa Pakistan tidak akan lagi membiarkan wilayahnya dipakai untuk menyerang India.

Presiden Pakistan Asif Ali Zardari langsung meminta India untuk tidak menghukum negaranya segera setelah India menuding Pakistan terlibat dalam serangan di Mumbai. Harian Financial Times, mengutip Zardari, menyebutkan, kelompok bersenjata punya kekuatan memicu perang di kawasan regional. Zardari juga mengingatkan, ada upaya provokator yang memicu perang kedua negara tetangga yang sama-sama memiliki senjata nuklir itu.

”Kita hidup di masa-masa sulit. Banyak provokator yang juga pernah membuat kita berperang dulu. Kita tetap harus bekerja sama melawan ini,” kata Zardari.

Perdana Menteri Pakistan Yousuf Raza Gilani mengajak pemimpin politik mengembangkan ”kebijakan konsensus nasional” khusus terhadap India. Pakistan berjanji membantu India dalam penyelidikan serangan Mumbai. Salah satu rencananya adalah dengan mengirim kepala badan intelijen Pakistan ke India.

Pakistan dan India pernah terlibat dalam tiga perang sengit, bahkan nyaris terjadi perang yang keempat kalinya tahun 2001 saat terjadi serangan di parlemen India. Ketika itu India juga menuding Pakistan terlibat.

AS khawatir

Pakistan pernah mengingatkan, jika ketegangan dengan India meningkat, Pakistan akan memindahkan pasukannya dari perbatasan Afganistan ke perbatasan India. Ketegangan hubungan India-Pakistan seperti itu yang dikhawatirkan oleh Pemerintah AS. Jika hubungan dua negara sekutu AS itu memburuk, berbagai upaya AS melawan kelompok Taliban di Afganistan dan Al Qaeda akan terganggu, bahkan gagal total. (REUTERS/AFP/AP/LUK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau