Bikin Ruangan Merokok Malah Dikecam

Kompas.com - 02/12/2008, 06:58 WIB

TOKYO, SELASA - Kepala Sekolah SMA Tsugeno, Prefektur Aichi, Jepang tengah, bermaksud baik. Kazunari Tsujita, nama kepala sekolah itu, melihat, 70 dari 230 muridnya punya kebiasaan merokok. Sebagian besar dari murid-murid perokok ini sudah duduk di kelas terakhir.

Karena itu, Tsujita berinisiatif membangun ruangan merokok bagi siswa-siswanya yang tidak bisa menghilangkan kebiasaan merokok ini. Namun, niat baik tersebut justru mengundang protes dari seluruh Jepang karena perbuatan itu termasuk ilegal.

”Saya sungguh minta maaf karena sudah menimbulkan masalah besar,” ujar Tsujita dalam jumpa pers, Senin (1/12). Dikatakan, selama ini para siswa merokok diam-diam, yang membuat terjadi kebakaran-kebakaran kecil di sekolah.

Tsujita menyadari kebijakannya itu jelas ilegal, tetapi mengingat 70 siswa pemadat itu, maka dia tak bisa membiarkan mereka merokok sembunyi-sembunyi. Apalagi, sebagian besar dari para perokok berat itu berada di kelas terakhir yang harus tak boleh bolos sekolah.

Kadang untuk merokok, para pemadat itu menghilang dari sekolah. Posisi kepala sekolah ini memang serba salah. Undang-undang di Jepang melarang merokok bagi siapa saja yang belum berusia 20 tahun.

Para perokok di sekolah Tsujita jelas belum berusia di atas 20 tahun. Jelas menyediakan ”ruangan merokok” merupakan sebuah pelanggaran. Namun, tanpa ”ruangan merokok”, para siswa itu akan menghilang. (Reuters/AFP/PPG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau