PANDEGLANG - Sejumlah warga Pandeglang menyatakan kecewa bahkan marah karena SPBU di kota itu menutup kegiatannya menjual BBM.
"Saya kira lebih baik bubarkan saja Pertamina," kata Samsudin (45) pengendara motor di SPBU Kadu Banen, Pandeglang, Selasa dengan nada tinggi.
Dia mengaku heran karena di zaman merdeka sekarang ini masih sering sekali terjadi kelangkaan BBM. Semestinya, Pertamina mampu mengendalikan pasokan BBM ke sejumlah SPBU sehingga tidak menyengsarakan masyarakat banyak.
Saat ini, kata Samsudin, banyak pengendara motor terpaksa mendorong kendaraannya karena kehabisan bensin. "Saya sendiri mendorong motor sejauh satu kilometer untuk mencari bensin di SPBU ini, namun ternyata SPBU tutup dan pengecer bensin juga kosong," katanya.
Menurut dia, kelangkaan bensin itu terkait turunya harga premium dari Rp6.000 perliter menjadi Rp5.500 per liter. Namun penurunan itu ternyata membawa derita baru bagi masyarakat karena BBM langka.
"Seharusnya tidak terjadi kelangkaan BBM seperti ini," ujarnya. Sardi (40) petugas SPBU Cipacung, Pandeglang, mengaku pihaknya menutup penjualan sejak Minggu (30/11) karena pasokan BBM dari Depot Pertamina belum masuk.
Oleh karena itu, pihaknya terpaksa memasang papan pengumuman bertuliskan "Mohon maaf bensin tidak ada" agar pengendara tidak meluapkan emosinya ke SPBU.
"Papan nama ini sengaja dipasang untuk meredam emosi warga," katanya.
Sementara itu, SPBU di jalan Raya Pandeglang-Serang juga kehabisan stok BBM karena terjadi aksi borong oleh pedagang pengecer. "Saat ini, harga bensin di tingkat pengecer mencapai Rp8.000 perliter," kata Ayub (45) warga Pandeglang.