865 Rumah Terendam

Kompas.com - 03/12/2008, 01:20 WIB

Atambua, Kompas - Sebanyak 865 rumah warga dan 50 hektar ladang di Desa Sikun dan Desa Oanmane, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, terendam luapan Sungai Benanain, sejak Senin (1/12). Banjir itu kiriman dari Kabupaten Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan.

Demikian diungkapkan Camat Malaka Barat Kabupaten Belu, Remigius Asa, saat dihubungi per telepon di Besi Kama, Belu, Selasa.

Banjir merupakan masalah rutin tiap musim hujan. Tujuh desa lain di kecamatan itu sudah bebas banjir setelah tahun lalu dibangun tanggul penahan banjir sepanjang 7 km.

Banjir setinggi 15 cm itu masih bisa bertambah tinggi dan luas karena di Pegunungan Mutis, Kabupaten TTU dan TTS, masih turun hujan.

Menurut Asa, tanggul penahan banjir perlu diperpanjang 3 km lagi agar dua desa itu terhindar dari banjir. ”Biaya memperbaiki kerusakan akibat banjir setiap tahun jauh lebih tinggi dibandingkan biaya pembangunan tanggul,” katanya.

Kepala Desa Sikun, Yosep Seran Seko, menyatakan, meski 467 rumah di desa itu sudah diubah menjadi rumah panggung, penduduk tetap merasa tidak aman.

Dengan rumah panggung, korban jiwa dapat dihindari jika banjir datang malam hari. Namun, ladang jagung dan palawija, ternak piaraan, serta sumur air warga tetap kebanjiran.

Kepala Dinas Sosial NTT Frans Salem mengatakan, Pemprov menyediakan 300 ton beras untuk bantuan korban bencana selama musim hujan. Pemkab diwajibkan menyediakan 100 ton beras, kendaraan operasional, mobil tangki, obat-obatan, tenaga medis, terpal, dan kebutuhan lain.

Sementara itu, memasuki hari keempat banjir di wilayah pantai timur Nanggroe Aceh Darussalam, puluhan ribu warga di Kabupaten Bireuen, Kota Lhok Seumawe, Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Aceh Timur, dan Kota Langsa masih mengungsi. Data Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi NAD, Selasa (2/12), menyebutkan, jumlah pengungsi mencapai 16.218 keluarga (60.477 jiwa).

Camat Idi Tunong, Kabupaten Aceh Timur, Syakya, mengatakan, 13 desa masih terisolasi akibat banjir setinggi 1,5 meter dan tidak bisa ditembus kendaraan yang mengantar bantuan. Lebih dari 1.500 hektar sawah dan 600 hektar kebun cokelat milik warga terendam.

Hubungan darat antara Kecamatan Peunaron dan Peureulak putus total. Ada 15 jembatan perintis putus. Syakya minta agar jembatan segera dibangun. Hal senada dinyatakan Camat Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan, Lahmuddin, karena dua jembatan di wilayahnya putus.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia wilayah NAD menengarai banjir terjadi karena kerusakan lingkungan yang sangat parah akibat penebangan liar.

Di Samarinda, Kalimantan Timur, banjir bercampur lumpur dari lubang bekas penggalian batu bara menerjang 90 rumah di Kelurahan Sungai Siring, Selasa. Warga dua RT terpaksa mengungsi. Di atas permukiman warga beroperasi perusahaan tambang batu bara.

Ketua RT 11 Santoso mengatakan, hujan sejak pukul 12 Wita hari Selasa menjebol tanggul lubang bekas penggalian batu bara. ”Lumpur menerjang perumahan sekitar pukul 14.00 Wita,” katanya.

Sementara itu, tiga rumah warga Kelurahan Paupire, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, rusak diterjang air yang meluap dari drainase kota, Selasa pukul 05.00 Wita. (KOR/MHD/BRO/SEM)

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau