Abrasi di Kendal Sulit Dikendalikan

Kompas.com - 03/12/2008, 20:56 WIB

KENDAL, RABU - Minimnya sabuk pengaman hijau (green belt) dan di sepanjang pesisir pantai Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, membuat abrasi di daerah itu sulit dikendalikan. Abrasi tidak hanya menghancurkan ekosistem sekitar pantai, tetapi juga merusak tambak milik warga.

"Akibat abrasi, empat hektar tambak milik warga telah rusak dihantam gelombang laut selama setahun ini," ucap Asro (42), warga di Desa Wonorejo, Kecamatan Kaliwungu Utara, Kabupaten Kendal, Rabu (3/12).

Kini, tanggul di sekitar tambak telah terendam air setinggi paha orang dewasa. Akibatnya, tambak bandeng tersebut akhirnya rusak dan tidak produktif.

Di beberapa tambak yang masih selamat, tampak tumpukan karung berisi pasir yang digunakan petambak untuk membendung hantaman gelombang air laut. "Pasalnya, jika sedang gelombang pasang, puluhan hektar tambak di sekitar sini juga terkena ombak," kata Asro.

Menurut Ngateman (24), warga lainnya, abrasi juga membuat garis pantai di Desa Wonorejo maju sekitar 40 meter ke arah daratan hanya dalam jangka waktu empat bulan.

Di Desa Sendang Sikucing, Kecamatan Rowosari, abrasi mengancam permukiman warga yang berjarak tinggal 40 meter dari garis pantai. "Padahal, setahun lalu jarak pantainya masih sekitar 100 meter dari rumah penduduk," ucap Suparman (41), warga setempat.

Merusak ekosistem

Menurut data Dinas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan (PKP) Kabupaten Kendal yang dihasilkan dari foto citra satelit, tingkat abrasi di Kabupaten Kendal dalam kurun waktu antara 2003-2006 telah mencapai 38,08 hektar yang tersebar di 20 desa dan enam kecamatan.

Abrasi terparah terjadi di Desa Mororejo dan Desa Wonorejo, Kecamatan Kaliwungu Utara, dengan total luas lahan yang tersapu gelombang mencapai 16,65 hektar.

V Sudarmadji, Kepala Bidang Kelautan Dinas PKP Kendal mengaku, minimnya sabuk pengaman hijau di pantai membuat abrasi sulit untuk dikendalikan. "Pantai yang tidak memiliki sabuk pengaman untuk membendung gelombang bisa membuat ekosistem pantai rusak dan permukiman warga terancam," ucap Sudarmadji, yang ditemui di sela-sela acara bersih pantai dan penanaman 1.000 pohon cemara laut dan glodokan di Pantai Sendang Sikucing, Kecamatan Rowosari.

Dari garis pantai sepanjang 41 kilometer di Kabupaten Kendal, menurut Sudarmadji, baru terdapat 300 meter sabuk pengaman hijau berupa tanaman bakau di Desa Kartika Jaya, Kecamatan Patebon. "Itu saja baru ditanami sejak tahun 2006 lalu," katanya. * 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau