Kabupaten Bandung Terendam

Kompas.com - 05/12/2008, 06:59 WIB

BANDUNG - Akibat tanggul Sungai Cipariuk jebol pada Rabu (3/12) malam, sedikitnya 2.200 rumah di Perumahan Bumi Harapan, Kecamatan Cileunyi, dan Bumi Panyileukan, Kecamatan Panyileukan, Kabupaten Bandung, dilanda banjir sejak Kamis (4/12) dini hari.

Banjir dengan ketinggian 30 sentimeter hingga 2 meter itu juga melanda enam kecamatan lain, yaitu Rancaekek, Majalaya, Kutawaringin, Baleendah, Bojongsoang, dan Dayeuhkolot—semuanya juga di Kabupaten Bandung—karena air Sungai Citarum meluap. Di delapan kecamatan ini setidaknya 14.000 rumah terendam.

Hingga Kamis siang, warga di wilayah selatan dan timur Kabupaten Bandung itu bergotong-royong memperbaiki tanggul dengan karung dan bambu, dibantu personel dari Komando Rayon Militer Cileunyi.

Koswara, warga RT 04 RW 08, mengatakan, mereka bekerja secara swadaya dengan tentara. ”Belum ada bantuan dari Pemerintah Kabupaten Bandung. Yang memberikan bantuan justru orang Pemerintah Kota Bandung,” katanya.

Dinas kebakaran menurunkan tiga mesin pompa untuk menguras genangan air di perumahan. ”Tapi genangan sulit surut karena air yang datang dari sungai lebih besar daripada air yang kami sedot,” kata Kepala Dinas Kebakaran Kota Bandung Prijo Soebandiono.

Diperoleh informasi, sebanyak 3.195 rumah di enam desa di Kecamatan Rancaekek tergenang air akibat luapan Sungai Citarum. ”Di sini airnya mencapai satu meter,” kata seorang warga Kecamatan Majalaya. Sementara itu, 300 rumah lainnya di tiga desa tergenang air setinggi 40 cm.

Sekretaris Kecamatan Majalaya Lili Sadeli menjelaskan, banjir yang terjadi di Majalaya relatif tidak terlalu parah. Ketinggian air mencapai 40 cm, yang naik sejak tengah malam, tetapi sudah surut sejak siang hari.

Kepala Seksi Ketenteraman dan Ketertiban Kecamatan Rancaekek Dadang Hermawan menuturkan, wilayah rawan banjir di Kecamatan Rancaekek dilalui oleh tiga anak Sungai Citarum, yaitu Sungai Cikijing, Cikeruh, dan Cimande. Salah satu penyebab kian seringnya terjadi banjir adalah pendangkalan sungai. Ketika hujan turun, sungai tidak bisa menampung luapan air dari daerah yang lebih tinggi.

Pengerukan tiga anak sungai tersebut, ujar Dadang, sudah diusulkan kepada Pemprov Jawa Barat, tetapi hingga kini rencana itu belum dikerjakan.

Sebelumnya, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Citarum Mudjiadi menjelaskan, instansinya tengah mengupayakan pendanaan untuk Proyek Normalisasi Sungai Citarum tahap III, yaitu pengerukan sembilan anak sungai, yakni Sungai Cibeusi, Citarik Hulu, Citarum Hulu, Cisangkuy Hulu, Citalutuk, dan Ciputat. Tiga anak sungai tersebut termasuk dalam target normalisasi tahap III.

”Tahap III nantinya hanya berupa pengerukan untuk memperbesar kapasitas sungai. Kali ini tanpa ada pelurusan karena bentuknya tidak berkelok seperti Sungai Citarum,” kata Mudjiadi.

Khususnya di wilayah selatan, sumber banjir berasal dari limpasan Sungai Citarum ke kawasan permukiman di tepian sungai.

Banjir kali ini juga mengakibatkan 18 sekolah dan 16 masjid tergenang. Warga yang rumahnya terendam mengungsi antara lain ke Taman Kota Baleendah, Kantor Dewan Perwakilan Cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kabupaten Bandung, dan beberapa masjid yang lokasinya lebih tinggi.

Daerah selatan Kabupaten Bandung, yaitu Kecamatan Baleendah dan Dayeuhkolot, merupakan daerah paling parah terkena dampak banjir. Total rumah yang tergenang di daerah ini mencapai 10.300 rumah dan limpasan air mencapai pusat kecamatan hingga melumpuhkan aktivitas warga.

Menurut Camat Dayeuhkolot Tata Irawan, air naik sejak pukul 04.00. Diduga luapan air berasal dari daerah lain, seperti dari Kecamatan Majalaya dan Kota Bandung. ”Di daerah ini hujan turun tidak terlalu deras. Informasi yang kami dapatkan, hujan memang turun deras di wilayah kota serta wilayah timur,” kata Tata.

Di Kecamatan Baleendah, banjir menggenangi pusat kota dan sebuah pompa bensin, SPBU 34-40307. Banjir juga memutus Jalan Anggadireja dan Jalan Andir yang menjadi penghubung antarkecamatan.

Menurut Tata, kecamatan sudah membuka dapur umum dan posko kesehatan keliling. Bantuan juga mulai mengalir berupa bantuan beras 1,1 ton dari Kepolisian Resor Bandung untuk warga Kecamatan Baleendah. Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Rahardja memberikan bantuan air bersih kepada Kelurahan Baleendah.

Tasikmalaya

Hujan deras yang mengguyur Tasikmalaya sejak Rabu sore hingga Kamis dini hari juga mengakibatkan banjir dan longsor. Banjir melanda Desa Tanjungsari, Kecamatan Sukaresik, sedangkan longsor terjadi di Kampung Sunabana, Desa Mulyasari, Kecamatan Salopa.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Jawa Barat, Jaya Wijaya mengatakan, curah hujan di Jabar masih tergolong normal, rata-rata 101-300 milimeter per hari selama November 2008.

Banjir yang melanda sejumlah daerah di Jabar, khususnya di Bandung Selatan, diperkirakan lebih dikarenakan aliran air Sungai Citarum yang tersumbat dan alurnya yang berkelok-kelok. (ELD/ADH/MHF/REK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau