Anwar Ibrahim Sanjung Indonesia

Kompas.com - 05/12/2008, 13:30 WIB

JAKARTA, JUMAT — Ketua Partai Oposisi Malaysia Anwar Ibrahim menyanjung kebesaran bangsa Indonesia. Menurutnya, di negara ini pernah lahir tokoh-tokoh pemikir besar yang telah dihormati dunia internasional, seperti Soekarno, Moh Hatta, Syahrir, dan Moh Natsir.

Selain itu, dia juga menilai Undang-Undang Dasar 1945 bersifat inklusif dan mengakui keberagaman. Anwar mengaku, dirinya mengatakan hal tersebut bukan berarti tidak memiliki nasionalisme, tetapi hanya mencoba bersikap obyektif.

"Saya rasa jarang negara yang seperti itu. Kalau di Malaysia, mana ada yang seperti itu. Di Malaysia, UMNO (koalisi partai berkuasa) semua," ujar Anwar, Jumat (5/12) di Pusat Studi Jepang Kampus UI Depok.

Ungkapan yang disampaikan di sela-sela kuliah umumnya yang berjudul, Can Asia Survive from Global Economic Crisis: A Challenge Towards Asia Renaissance. Anwar juga memuji seniman-seniman Indonesia, seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Mochtar Lubis, dan Taufik Ismail.

Menurutnya, karya-karya mereka memberikan semangat dan inspirasi bagi semua orang. Kemudian, Anwar mengeluhkan dirinya yang dipersulit dalam memberikan kuliah umum di universitas-universitas di Malaysia.

"Padahal, saya sudah pernah memberikan kuliah umum di Oxford, Cambridge, Harvard, dan lainnya. Mungkin, universitas di Malaysia terlalu tinggi buat saya," ujarnya sambil tertawa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau