SLAWI, JUMAT - Produksi padi di Kabupaten Tegal terancam turun hingga 10 persen, akibat kesulitan pupuk yang dialami petani pada awal musim tanam pertama. Oleh karena itu, operasi pasar pupuk sangat dibutuhkan, untuk memenuhi kebutuhan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal, Toto Subandriyo, Jumat (5/12). Menurut dia, kekurangan pupuk saat tanaman berusia di atas satu bulan, akan mengganggu pertumbuhan anakan produktif. "Padahal, anakan produktif akan menentukan jumlah malai atau tangkai padi. Anakan produktif mulai tumbuh usia 15 hari, sehingga saat itu harus dimulai pemupukan," ujarnya.
Menurut dia, saat ini sedikitnya tiga kecamatan di Kabupaten Tegal, yaitu Dukuhwaru, Lebaksiu, dan Pagerbarang, yang sudah tutup tanam. Kecamatan-kecamatan tersebut merupakan sentra tanaman padi, dengan luas areal keseluruhan sekitar 9.000 hektar atau 36 persen dari keseluruhan luas tanam musim pertama di Kabupaten Tegal.
"Meskipun demikian, belum semua petani di tiga wilayah tersebut mendapatkan pupuk. Bahkan, sebagian tanaman di Kecamatan Dukuhwaru, yang usianya mendekati satu bulan juga belum dipupuk. Luasnya sekitar 150 hektar," katanya.
Toto mengatakan, keterlambatan pemupukan akan menurunkan produksi hingga 10 persen. Apabila rata-rata produktifitas tanaman padi di Kabupaten Tegal sekitar 5,6 ton, potensi penurunan produksi dari tiga wilayah tersebut sekitar 5.040 ton. "Belum lagi pada musim penghujan, tanaman rawan terserang wereng coklat, sundep, dan tikus," tambahnya.
Oleh karena itu, operasi pasar pupuk harus segera disalurkan pada bulan Desember ini. Selain membutuhkan untuk pemupukan pertama, petani juga membutuhkannya untuk pemupukan kedua, saat tanaman berusia 30 hingga 45 hari. Jumlah pupuk yang dibutuhkan untuk tiga wilayah tersebut sekitar 2.250 ton.
Marzuki (56), petani di Desa Randusari, Kecamatan Pagerbarang mengatakan, petani harus menyerahkan KTP kepada ketua kelompok tani, dua hari sebelum pasokan pupuk datang. Mereka juga harus menunggu selama berjam-jam, untuk mendapatkan jatah pupuk.
Saat ini, ia mengaku sudah memupuk tanamannya yang berusia sekitar 30 hari. Namun, ia mengaku kesulitan mencari pupuk untuk pemupukan kedua. Ia berharap, pemerintah segera menyalurkan operasi pasar, agar kebutuhan pupuk petani terpenuhi.
Menurut Toto, kelangkaan pupuk disebabkan adanya kebocoran distribusi di tingkat distrbutor maupun pengecer. Selain itu, aplikasi penggunaan pupuk oleh petani melebihi rekomendasi yang dikeluarkan departemen pertanian, sehingga kebutuhan riil jauh lebih besar daripada pasokan.
Penyebab lainnya, alokasi dari pemerintah pusat lebih sedikit dari pengajuan daerah. Sebagai contoh untuk tahun 2008, Pemkab Tegal mengajukan 36.000 ton urea. Namun alokasi yang diterima hanya 30.000 ton.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang