Produksi Padi di Tegal Terancam Turun

Kompas.com - 05/12/2008, 20:56 WIB

SLAWI, JUMAT - Produksi padi di Kabupaten Tegal terancam turun hingga 10 persen, akibat kesulitan pupuk yang dialami petani pada awal musim tanam pertama. Oleh karena itu, operasi pasar pupuk sangat dibutuhkan, untuk memenuhi kebutuhan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal, Toto Subandriyo, Jumat (5/12). Menurut dia, kekurangan pupuk saat tanaman berusia di atas satu bulan, akan mengganggu pertumbuhan anakan produktif. "Padahal, anakan produktif akan menentukan jumlah malai atau tangkai padi. Anakan produktif mulai tumbuh usia 15 hari, sehingga saat itu harus dimulai pemupukan," ujarnya.

Menurut dia, saat ini sedikitnya tiga kecamatan di Kabupaten Tegal, yaitu Dukuhwaru, Lebaksiu, dan Pagerbarang, yang sudah tutup tanam. Kecamatan-kecamatan tersebut merupakan sentra tanaman padi, dengan luas areal keseluruhan sekitar 9.000 hektar atau 36 persen dari keseluruhan luas tanam musim pertama di Kabupaten Tegal.

"Meskipun demikian, belum semua petani di tiga wilayah tersebut mendapatkan pupuk. Bahkan, sebagian tanaman di Kecamatan Dukuhwaru, yang usianya mendekati satu bulan juga belum dipupuk. Luasnya sekitar 150 hektar," katanya.

Toto mengatakan, keterlambatan pemupukan akan menurunkan produksi hingga 10 persen. Apabila rata-rata produktifitas tanaman padi di Kabupaten Tegal sekitar 5,6 ton, potensi penurunan produksi dari tiga wilayah tersebut sekitar 5.040 ton. "Belum lagi pada musim penghujan, tanaman rawan terserang wereng coklat, sundep, dan tikus," tambahnya.

Oleh karena itu, operasi pasar pupuk harus segera disalurkan pada bulan Desember ini. Selain membutuhkan untuk pemupukan pertama, petani juga membutuhkannya untuk pemupukan kedua, saat tanaman berusia 30 hingga 45 hari. Jumlah pupuk yang dibutuhkan untuk tiga wilayah tersebut sekitar 2.250 ton.

Marzuki (56), petani di Desa Randusari, Kecamatan Pagerbarang mengatakan, petani harus menyerahkan KTP kepada ketua kelompok tani, dua hari sebelum pasokan pupuk datang. Mereka juga harus menunggu selama berjam-jam, untuk mendapatkan jatah pupuk.

Saat ini, ia mengaku sudah memupuk tanamannya yang berusia sekitar 30 hari. Namun, ia mengaku kesulitan mencari pupuk untuk pemupukan kedua. Ia berharap, pemerintah segera menyalurkan operasi pasar, agar kebutuhan pupuk petani terpenuhi.

Menurut Toto, kelangkaan pupuk disebabkan adanya kebocoran distribusi di tingkat distrbutor maupun pengecer. Selain itu, aplikasi penggunaan pupuk oleh petani melebihi rekomendasi yang dikeluarkan departemen pertanian, sehingga kebutuhan riil jauh lebih besar daripada pasokan.

Penyebab lainnya, alokasi dari pemerintah pusat lebih sedikit dari pengajuan daerah. Sebagai contoh untuk tahun 2008, Pemkab Tegal mengajukan 36.000 ton urea. Namun alokasi yang diterima hanya 30.000 ton.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau