Haji, Menag Kontrak Rumah 15 Tahun

Kompas.com - 06/12/2008, 05:00 WIB

MEKAH, SABTU- Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni menyatakan, pihaknya telah menyiapkan kontrak pemondokan bagi 100.000 jemaah haji Indonesia dalam kurun waktu selama 15 tahun.

"Saya nggak mau lagi jatuh ke lubang yang sama dengan pemondokan seperti Syauqiyah, Ka’kiah, dan yang jauh-jauh itu," katanya di Mekkah, Jumat pukul 22.00 waktu setempat atau Sabtu (6/12) pukul 02.00 WIB.

Setelah berbicara dalam Malam Ta’aruf Amirul Haj dengan petugas PPIH Arab Saudi di halaman kantor Daerah Kerja (Daker) Mekkah, ia menyatakan pihaknya telah mengutus tim untuk itu. "Tim itulah yang melakukan negosiasi soal kontrak yang berada di ring I dekat Misfalah itu. Saya minta tim untuk tidak pulang sampai berhasil," katanya.

Di sela-sela pertemuan yang dihadiri pengawas haji dari Komisi VIII DPR RI dan DPD RI, Dubes RI di Arab Saudi Salim Segaf Aldjufri, Dubes RI di Qatar Rozy Munir, dan KJRI Jeddah Gatot Abdullah itu, Menag mengaku pemilik rumah sudah menyetujui dan tinggal membuat perjanjian.

"Kalau sudah, saya akan tandatangan. Untuk jemaah lainnya, rasanya tidak mungkin untuk menyewa pemondokan di ring I bagi 200.000, karena itu sisanya akan di ring II, tapi tidak akan sejauh sekarang," katanya.

Namun, katanya, biaya pemondokan untuk 15 tahun itu mungkin tidak akan sama. "Mungkin tiga tahun pertama akan 2.000 riyal, tapi untuk selanjutnya 2.500 riyal, karena mengantisipasi perluasan Masjidilharam," katanya.

Untuk pemondokan di Madinah, katanya, pihaknya sudah ada komitmen dengan DPR RI untuk menempatkan seluruh jemaah pada kawasan Markaziyah (ring I) dengan menaikkan biaya pemondokan dari 500 riyal menjadi 600 riyal.

Di hadapan ratusan petugas haji Arab Saudi dari jajaran kesehatan dan Depag itu, Menag menyatakan dirinya minta maaf kepada petugas yang telah bekerja keras membanting tulang dalam kondisi pemondokan yang jauh dan tanpa sarana transportasi.

"Ada ’tangan-tangan jahil’ dalam pelayanan haji yang berbuat aneh-aneh untuk mencari keuntungan pribadi. Jadi, tantangan berat yang kita hadapi adalah dari kita sendiri yang suka aneh-aneh itu. Mereka mengeksploitasi jemaah kita yang selama ini dikenal sabar," katanya.

Dalam kesempatan itu, Menga menyampaikan sejumlah pesan, di antaranya petugas hendaknya perlu membimbing jemaah haji yang umumnya dari pedesaan dan belum pernah ke luar negeri itu.

"Letak geografis Arab Saudi yang berbeda dengan Tanah Air akan berpengaruh terhadap kondisi fisik jemaah, apalagi alat transporasi yang diharapkan akan mengurangi kelelahan justru belum sesuai harapan," katanya.

Menteri menambahkan perlunya petugas kloter untuk berkoordinasi dengan ketua rombongan dan ketua regu serta petugas Satuan Operasi (Satops) Armina (Arafah-Muzdalifah-Mina) harus berupaya maksimal menjaga ketersediaan katering dan keamanan jemaah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau