Disiram Air Keras, Wajah Siti Alfiah Berantakan

Kompas.com - 06/12/2008, 11:55 WIB

PASURUAN — Siti Alfiah (19 tahun) dulu dikenal sebagai gadis cantik. Namun, sekarang warga RT 2 RW 2, Dusun Curahbanyak, Kluwut, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, ini malu keluar rumah gara-gara wajahnya tak lagi sedap dipandang.

Bahkan, rencana pernikahannya, Kamis (11/12), pun berantakan. Penyebabnya, wajah dan punggung bagian kanan gadis lulusan SMP ini rusak akibat disiram air keras oleh orang tidak dikenal, Jumat (22/8) malam. Keluarga menduga, pelaku kejahatan tersebut adalah pria yang cintanya pernah ditolak Siti, yaitu Sdr.

Kasus Siti mengingatkan orang pada kasus Siti Nurjazilah alias Lisa yang wajahnya rusak berat setelah disiram air keras oleh sang suami, Mulyono. Lisa, seperti diketahui, telah menjalani sekitar 12 kali operasi sejak operasi rekronstruksi wajah total (face off) pertama pada Maret 2006.

Kasus Siti Alfiah sudah dilaporkan ke polisi. Namun, hingga tiga bulan berlalu polisi belum menemukan pelaku penyiraman air keras tersebut. Hal ini diakui Kapolsek Wonorejo AKP Prasetyo Budi Utomo ketika dimintai konfirmasi, Jumat (5/12).

“Hingga saat ini masih dalam tahap penyelidikan. Kami kekurangan saksi-saksi yang menguatkan peristiwa itu, tetapi tetap berupaya sekuat tenaga mengusut dan menuntaskan hingga kapan pun,” tuturnya.

Ditemui terpisah, Siti mengungkapkan, peristiwa yang menyengsarakannya itu terjadi saat dirinya pulang kerja di sebuah pabrik mebel. Kala itu dia dibonceng sang tunangan, Ayon Danu Harjo (21 tahun), warga Desa-Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan.

Sebelum sampai pabrik, Ayon mampir di SPBU Wonorejo untuk membeli bensin. Saat itu pompa bensin sepi karena malam hari. Tiba-tiba dua orang pria berboncengan sepeda motor mendekat dan pria yang duduk di belakang mengeluarkan benda seperti gelas dari seng. “Dia menyiramkan isinya ke arah saya,” kenang Siti Alfiah kepada wartawan, Jumat.

Sontak Siti Alfiah merasa kepanasan dan bagian tubuh yang tersiram langsung mengerut. Dalam kondisi kesakitan, Siti Alfiyah diantar Ayon langsung melapor ke Mapolsek Wonorejo.

Ayon, tunangan yang  juga teman sepabrik Alfiah, tidak mengetahui siapa orang yang mencelakai sang tunangan. Sejoli ini bertunangan pada 9 Agustus 2008 dan berencana menikah pada 11 Desember.

Sulit menoleh

Selang tiga hari berikutnya, berdasarkan hasil visum dokter diketahui bahwa air yang disiramkan ke tubuh Alfiah adalah air keras. Akibat siraman keras ini, beberapa bagian kulit tubuh Siti Alfiah melepuh, antara lain, kulit pipi, telinga, hingga leher dan punggung sebelah kanan. Kondisi tersebut membuat Alfiyah kesulitan jika menoleh.

Dengan muka dan sebagian punggung cacat, Siti Alfiah pun menanggung malu. Bahkan, ia terpaksa keluar dari pekerjaan karena tak kuat menahan malu dan menjadi pusat perhatian gara-gara cacat wajah dan punggung. Padahal, selama ini Siti merupakan tulang punggung keluarga.

Siti juga berupaya untuk mengembalikan kondisinya dengan berobat ke RSUD dr Soetomo Surabaya. Namun, meski sudah dioperasi dua kali, hasilnya tidak maksimal.

“Masih dibutuhkan operasi sekali lagi agar kembali normal, tetapi saya sudah tidak memiliki biaya,” keluhnya dengan nada memelas.

Siti menduga peristiwa itu berhubungan dengan sikapnya menolak pinangan seseorang berinisial Sdr, beberapa waktu sebelumnya. Setelah Siti menolak pinangan, keluarganya mendapat ancaman.

“Setelah Sdr ditolak dia pernah mengancam, katanya 'atase gak ngentekno tanah sak gunung ae aku gak lilo' (tidak bakalan menghabiskan banyak harta, saya tidak rela ditolak),” kata Jumilah, ibu Siti Alfiah, menirukan kembali ancaman Sdr.

Kini, selain kehilangan pekerjaan akibat muka dan punggungnya yang rusak, rencana Siti menikah dengan Ayon pun berantakan. Pasalnya, Siti Alfiah dan orangtuanya ingin agar saat menikah nanti kulit muka dan punggung Siti sudah kembali normal seperti sedia kala. Padahal, belum ada kepastian kapan wajah dan punggung Siti akan normal lagi. st13

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau