Lima WNI Enggan Kembali ke India

Kompas.com - 09/12/2008, 05:20 WIB
DENPASAR, KOMPAS — Lima warga negara Indonesia asal Bali yang terjebak dalam peristiwa serangan teroris di Mumbai, India, 26 November 2008, tiba dengan selamat di Pulau Dewata, Minggu (7/12). Mereka mengaku trauma dan enggan bekerja kembali di luar negeri, terutama India.

Kelima warga Bali itu adalah Anak Agung Komang Triastina asal Kabupaten Jembrana, I Gusti Ayu Putu Sri Rahayu (Tabanan), Ni Kadek Edi Darmayanti (Gianyar), Ni Luh Gde Mahendrayani (Nusa Penida, Klungkung), dan Ni Komang Sri Arini (Bangli). Kelimanya bekerja sebagai terapis spa di Hotel Trident Oberoi, Mumbai.

Kepulangan mereka antara lain difasilitasi Kedutaan Besar Indonesia untuk India. Mereka juga mengucapkan terima kasih atas kepedulian negara yang memastikan keselamatan mereka ketika peristiwa mencekam itu.

Trauma

Komang Triastina yang ditunjuk mewakili keempat rekannya mengatakan terima kasih untuk semuanya. Triastina mengungkapkan, dia dan keempat rekannya masih trauma. Mereka tidak ingin lagi mengalami peristiwa seperti 26 November itu, ”tersekap” dalam salah satu kamar hotel selama sekitar 36 jam. Dalam rentang waktu itu, mereka hanya minum air.

”Belum ada pikiran kembali ke luar negeri, apalagi India. Mungkin kami memilih untuk bekerja di Bali saja,” katanya.

Mereka berangkat ke India secara terpisah dan waktu berbeda, yakni 5-10 bulan lalu. Rata-rata penghasilan mereka sekitar 800 dollar AS per bulan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau