JAKARTA, SELASA - Menteri Agama, M Maftuh Basyuni, memikirkan untuk mengevaluasi pengiriman jamaah yang tidak sehat. Pasalnya, jumlah jamaah haji Indonesia yang meninggal seusai prosesi puncak ibadah haji wukuf di Arafah terjadi peningkatan.
Jamaah meninggal dengan berbagai penyakit cenderung meningkat. Data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) pada tanggal 6 Desember lalu memperlihatkan, ada 111 jamaah haji dinyatakan wafat. Namun, pada Senin (8/12) seusai wukuf di Arafah Siskohat telah mencatat 141 jamaah dinyatakan meningal dunia.
Media Center Haji Departeman Agama di Jakarta, Selasa (9/12) menyebutkan, menanggapi meningkatnya jamah haji yang meninggal setelah Arafah, Maftuh Basyuni berjanji akan mengevaluasi lagi sistem pengiriman jamaah haji Indonesia yang sudah tidak sehat. Hal ini dimaksudkan untuk menjadikan jamaah haji Indonesia yang dikirim ke tanah suci benar-benar dapat melaksanakan ibadahnya secara maksimal.
"Saya kira sejak dari awal kita harus selektif dalam menentukan jakamaah. Tahun depan saya akan beranikan diri untuk mengatakan calon jamaah yang menderita sakit tertentu tidak boleh. Tidak seperti sekarang, yang sejak dari Jakarta sudah pakai kursi roda bahkan ada yang dibawa ambulan," ujar Maftuh.
Maftuh mengakui, tidak akan ada pembatasan umur untuk berhaji. Hanya saja kriteria kesehatan harus di buat secara tegas mengenai siapa saja yang boleh berangkat dan tidak.
"Kalau Qatar itu membatasai umur 60 tahun tidak boleh berangkat. Kalau saya, tidak. Saya umur 6 0 tahun lebih masih sehat kok. Hanya saja perlu ada kriteria yang tegas. orang yang sakit itu kan sudah tergolong tidak mampu," kata Maftuh.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang