JAKARTA, SABTU - Gencarnya aktivitas Sri Sultan Hamengku Buwono X pascapendeklarasian dirinya sebagai capres, meramaikan perbincangan menjelang 'panas'nya suhu politik di tahun 2009. Apalagi, Sultan rajin menyambangi sejumlah tokoh politik sehingga menimbulkan banyak spekulasi, siapa yang akan mengajaknya berlabuh.
Nama Sultan, diakui cukup populer. Namun, menurut Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari, popularitas Sultan tak cukup membuat jalannya lancar. Sultan, kata Qodari, akan terganjal kendaraan politik yang akan membawanya ke kursi RI 1.
"Kendala Sultan paling besar kendaraan politik. Bicara latar belakang, dia kan orang Golkar. Tapi Golkar kan kuncen-nya JK. Sementara, kalau pindah ke partai lain spekulasinya akan tinggi. Misalnya, sekarang kan baru RepublikaN. Orang juga nggak terlalu tahu partainya. Jadi ya, kendala Sultan kendaraan politik itu," papar Qodari, Sabtu (13/12), di Jakarta.
Namun, peta akan berubah jika Sultan mau melaju dengan tawaran cawapres. Sebab, menurut Qodari, untuk posisi cawapres, Sultan paling populer. "Kalau Sultan mau posisi nomor dua (cawapres), cepat selesainya. Tapi Sultan sepertinya masih mau coba nomor satu. Untuk wapres, Sultan banyak yang mau," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang