M Qodari: Sultan Terganjal Kendaraan Politik

Kompas.com - 13/12/2008, 16:52 WIB

JAKARTA, SABTU - Gencarnya aktivitas Sri Sultan Hamengku Buwono X pascapendeklarasian dirinya sebagai capres, meramaikan perbincangan menjelang 'panas'nya suhu politik di tahun 2009. Apalagi, Sultan rajin menyambangi sejumlah tokoh politik sehingga menimbulkan banyak spekulasi, siapa yang akan mengajaknya berlabuh.

Nama Sultan, diakui cukup populer. Namun, menurut Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari, popularitas Sultan tak cukup membuat jalannya lancar. Sultan, kata Qodari, akan terganjal kendaraan politik yang akan membawanya ke kursi RI 1.

"Kendala Sultan paling besar kendaraan politik. Bicara latar belakang, dia kan orang Golkar. Tapi Golkar kan kuncen-nya JK. Sementara, kalau pindah ke partai lain spekulasinya akan tinggi. Misalnya, sekarang kan baru RepublikaN. Orang juga nggak terlalu tahu partainya. Jadi ya, kendala Sultan kendaraan politik itu," papar Qodari, Sabtu (13/12), di Jakarta.

Namun, peta akan berubah jika Sultan mau melaju dengan tawaran cawapres. Sebab, menurut Qodari, untuk posisi cawapres, Sultan paling populer. "Kalau Sultan mau posisi nomor dua (cawapres), cepat selesainya. Tapi Sultan sepertinya masih mau coba nomor satu. Untuk wapres, Sultan banyak yang mau," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau