Tradisi Sowan, Sungkem, dan Sawer Masih Kental di MA

Kompas.com - 13/12/2008, 17:31 WIB

JAKARTA, SABTU - Saat ini, di dalam tubuh Mahkamah Agung (MA) dinilai masih kental dengan tradisi 3 S, yakni sowan, sungkem, dan sawer. Hal ini berarti, semakin dekat dengan atasan, maka semakin mulus juga jalan untuk naik jabatan. Hal tersebut disampaikan Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Illian Deta Arta Sari, saat diskusi publik RUU MA, di Gedung Joeang 45, Jakarta, Sabtu (13/12).

"Pokoknya harus pintar-pintar dekat dengan atasan," kata Illiana.Tradisi ini tidak hanya berlaku bagi segelintir orang saja, namun hampir di seluruh jajaran.

Illiana mencontohkan, seseorang yang ingin naik jabatan menjadi Ketua Pengadilan Negeri (PN) harus bisa mengadakan pendekatan dengan atasannya di MA. "Apalagi kalau mau jadi Hakim Agung," ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Jhonson Panjaitan. Menurut Jhonson, selama ini, pengawasan dan legitimasi di lembaga peradilan dinilai rendah. MA yang seharusnya merupakan lembaga peradilan yang bijaksana, justru memiliki aspek hukum yang runtuh didalamnya.

"MA adalah pasar gelap karena hukum runtuh di sana," kata Jhonson.Selama ini MA tidak tersentuh oleh hukum dan tidak ada pertanggungjawaban. Hal ini bisa dilihat dalam berbagai hal, terlebih saat MA menolak adanya audit (pemeriksaan) uang perkara yang didapat.

Bahkan, selama 10 tahun proses reformasi berjalan, tidak ada proses pembaruan yang dilakukan di MA. Padahal, di beberapa lembaga lain sudah mengalami pembaruan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau