DUA tahun yang lalu, tak ada yang mengira Giorgio Chiellini akan menjadi pemain krusial di Juventus. Seperti halnya I Bianconeri yang kala itu sedang berada di masa suram saat tampil di Serie-B, nasib serupa juga dialami pemain kelahiran Pisa, 14 Agustus 1984 itu.
Bakat besar yang dimiliki Chiellini saat itu rupanya tidak membuat manajemen Juventus tertarik untuk mengikatnya dalam jangka waktu yang panjang. Malah, sempat beredar desas desus jika Juventus ingin melepas pemain ini di bursa transfer musim dingin 2006-07. Alhasil, perasaan gundah gulana merasuki pikiran Chiellini.
Wajar bila sempat terbersit keinginan Chiellini untuk meninggalkan klub yang mulai dibelanya sejak tahun 2005 itu. “Tak ada seorang pun yang mencoba untuk menghubungiku. Petinggi-petinggi klub saat ini fokus untuk memperbarui kontrak pemain-pemain yang dianggap penting,” kata Chiellini di awal tahun 2007 lalu.
Kondisi ini membuat beberapa klub lantas tertarik untuk meminangnya. Sebut saja Liverpool dan Manchester City.
Tidak seperti petinggi-petinggi Juventus yang kurang peka terhadap kemampuan pemainnya, Rafael Benitez dan Sven Goran Eriksson, yang menangani Liverpool dan Manchester City justru menyadari talenta luar biasa yang dimiliki Chiellini.
Untunglah, allenatore Juventus saat itu, Didier Deschamps merintangi negosiasi antara Direktur Alessio Secco dengan The Reds dan The Citizens. Dengan tegas, Deschamps mengatakan kepada Secco bahwa Chiellini bukan komoditas untuk mendatangkan uang. Chiellini merupakan aset berharga bagi masa depan I Bianconeri.
Mendapat perlawanan dari Deschamps, Secco lantas mengurungkan niatnya. Chiellini tetap dipertahankan dan dijanjikan perpanjangan kontrak apabila mampu memberikan kontribusi bagi I Bianconeri. Keputusan itu tidak sia-sia. Ia berhasil membawa Juventus menjuarai Serie-B musim 2006-07 dan berhak mendapatkan promosi ke Serie-A.
Setelah Deschamps mundur dan digantikan oleh Claudio Ranieri, perannya justru semakin krusial. Chiellini didaulat Ranieri untuk bermain sebagai centerback. Padahal sebelumnya ia lebih sering bermain sebagai bek kiri. Keputusan ini diambil Ranieri setelah Juventus mengalami krisis pemain belakang di awal musim 2007-08.
Cedera parah dialami oleh centerback Jonathan Zebina dan Jorge Andrade yang memaksa keduanya absen hampir satu musim. Alhasil, Juventus hanya memiliki Nicola Legrottaglie yang terbiasa bermain di posisi ini.
Dari stok pemain belakang yang tersisa, Ranieri menilai bahwa Chiellini memiliki kemampuan yang lebih baik di posisi ini ketimbang Zdenek Grygera, Guglielmo Stendardo, Christian Molinaro, dan Alessandro Birindelli. Alasan Ranieri didasari oleh tipe permainan Chiellini yang dikenal lugas, keras, namun penuh perhitungan. Sebagai bek kiri, Chiellini dikenal disiplin dalam mengawal teritorinya meski rajin membantu serangan.
Kemampuan Chiellini untuk mampu bermain baik sebagai bek kiri dan bek tengah tidak datang begitu saja. Kemampuan ini ia dapatkan berkat didikan iklim sepak bola jalanan yang keras.
“Aku pikir Giorgio adalah pemain yang hebat. Seperti aku, dia juga direkrut setelah bermain sepak bola dari jalanan. Kenyataan itu membuat dia harus bermain dua kali lebih baik ketimbang pemain lain bila ingin mendapatkan pengakuan yang sama,” ujar defender Inter Milan, Marco Materazzi.
KAPTEN JUVENTUS
Dengan penampilan konsisten, pelan tapi pasti posisinya tim inti I Bianconeri pun semakin mapan. Musim lalu, ia berjasa besar membawa Juventus meraih peringkat tiga di Serie-A dan dengan catatan bagus. Bersama Roma, Juventus menjadi tim dengan jumlah kebobolan terminim kedua di Serie-A dengan 37 gol.
Pencapaian tersebut membuat Juventus memenuhi janjinya untuk memberikan perpanjangan kontrak baru musim panas lalu. Chiellini pun menyambut gembira dan menyetujui tawaran klubnya. “Harapanku adalah bisa menjadi kapten Juventus. Saat ini ada Alessandro Del Piero dan Gianluigi Buffon. Selama Gigi bermain dia akan menjadi kapten. Tapi di masa depan akan menjadi sebuah kepuasan besar bisa mengikuti jejaknya,” ujar Chiellini.
Ketergantungan Juventus terhadap sosok Chiellini tidak berkurang sedikitpun musim ini. Terbukti, Juventus sempat panik saat pemain andalannya mengalami cedera di laga pramusim melawan AC Milan di ajang Trofeo Luigi Berlusconi. Untungnya, cedera yang dialami Chiellini tidak separah yang diperkirakan. Sempat diperkirakan absen selama tiga sampai enam bulan, Chiellini akhirnya bisa pulih dengan cepat setelah menjalani perawatan yang intensif.
“Aku memikul beban berat yang dipercayakan klub di pundakku. Saat merasakan sakit akibat cedera itu, aku menakutkan musim ini akan berakhir untukku,” kata Chiellini. “Saat ini aku merasa baik meski harus memainkan enam pertandingan dalam enam belas hari. Aku memang memiliki masalah pada lututku di awal musim, tapi saat ini semuanya jauh lebih baik.”
Musim ini tampaknya akan menjadi musim yang berat bagi Chiellini karena ia harus berjuang menghindari cedera di tengah padatnya jadwal pertandingan. Tak hanya Juventus, timnas Italia juga membutuhkan tenaganya. Tapi Chiellini terbiasa dengan kerasnya persaingan sepak bola jalanan. Itulah bekal untuk melewatinya. (Adit/SOCCER)
FAKTA CHIELLINI
Nama lengkap: Giorgio Chiellini
Lahir: Pisa (Italia), 14 Agustus 1984
Tinggi/Berat: 187 cm/84 kg
Posisi: Defender
Nomor kostum: 3 (Juventus)
Debut Serie-A: 12 September 2004, AS Roma 1-0 Fiorentina
Debut timnas: 17 November 2004, Italia 1-0 Finlandia
Belajar bisnis
Kehidupan pebola yang penuh dengan aktivitas dan kesibukan terkadang membuat orang-orang yang menggeluti olahraga ini melupakan pendidikan. Tidak banyak pebola yang memiliki minat terhadap bidang pendidikan dan memiliki cita-cita untuk mendapatkan gelar di bidang tertentu.
Untuk apa sekolah tinggi-tinggi bila sudah mendapatkan gelimang kekayaan dan ketenaran? Kira-kira, seperti itulah pemikiran dari kebanyakan pebola. Meski begitu, tidak semua pebola memiliki pemikiran demikian. Salah satu pemain yang memiliki minat tinggi terhadap pendidikan yaitu Giorgio Chiellini.
Sukses merintis karier di dunia sepak bola ternyata tidak meruntuhkan minat Giorgio Chiellini untuk mendapatkan gelar pendidikan tinggi. Di sela-sela kesibukannya sebagai pebola, Chiellini tetap meluangkan waktunya untuk menimba ilmu di bidang bisnis di Universitas Turin.
Sebagai pebola, Chiellini memang termasuk tipe pebola intelektual. Sebelum masuk perguruan tinggi, Chiellini menggenggam ijazah di bidang sains saat di sekolah. Bagi anak dari pasangan Fabio dan Lucia ini, pendidikan merupakan hal yang tak bisa dilupakan karena bisa menjadi bekal disaat ia tak lagi menggeluti olahraga ini. “Aku tak memungkiri untuk mencoba menggeluti bidang lain setelah pensiun nanti,” kata Chiellini.
Kalau melihat bidang studi yang diambilnya di perguruan tinggi saat ini, sudah terbayang bukan apa bidang pekerjaan yang akan dijalani Chiellini? (*)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang