BANTUL, SELASA - Meski harga bahan bakar minyak atau BBM sudah turun, namun imbasnya belum dirasakan oleh perajin kecil di Kabupaten Bantul. Biaya produksi mereka masih tetap karena harga bahan baku belum juga turun. Mereka berharap pemerintah melakukan intervensi agar penurunan harga BBM berdampak signifikan terhadap dunia usaha.
Triatmojo, perajin benda-benda rohani di Ganjuran Bantul, Selasa (16/12) mengatakan, penurunan harga BBM tidak terlalu membuatnya bahagia. Pasalnya harga bahan baku resin masih tetap tinggi yakni Rp 6,4 juta per drum, padahal sebelum harga BBM naik masih Rp 5,8 juta per drum.
Tak hanya bahan baku, penurunan harga BBM juga belum berpengaruh terhadap biaya pengiriman barang. "Padahal, hampir semua barang produksi Triatmojo harus dikirim ke berbagai kota. Pengusaha jasa transportasi belum bisa menurunkan tarif karena biaya perawatan armada sudah telanjur naik, " katanya.
Nasib serupa juga dialami Yamto, perajin keris di Dusun Banyusumurup, Girirejo, Imogiri. Harga kuningan yang digunakan untuk membuat kerangka keris (pendok) naik dari Rp 40.000/lembar menjadi Rp 55.000/lembar. "Meski harga bensin sudah turun dua kali, namun harga kuningan masih tetap sama, " katanya.
Meski harga beberapa komponen bahan baku naik, perajin mengaku kesulitan menaikkan harga jual. Penyebabnya karena kerajinan itu dibuat massal oleh warga sehingga bila harganya lebih mahal pasti akan ditinggalkan pembeli.
Parjinah, perajin keris lainnya mengatakan, tidak mungkin menaikkan harga sendirian. Ia takut langganan pindah ke perajin lain.
"Seharusnya, ada kesepakatan bersama untuk menaikkan, tetapi itu sangat sulit dilakukan karena di sini perajin jalan sendiri-sendiri. Tidak ada asosiasi yang mengatur harga jual keris," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang