PONTIANAK, SELASA - Janji Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis untuk mengirimkan surat meminta kronologis peristiwa penembakan empat warga negera Indonesia (WNI) asal Kabupaten Sanggau kepada Konjen Malaysia ditepati.
"Surat Pak Gubernur sudah saya terima, isinya meminta kronologis kejadian itu. Besok (Rabu, 17/12) Insya Allah saya balas dan langsung mengantarkannya ke Pak Gubernur," ungkap Konsul Malaysia, M Zairi M Basri kepada Tribun, Selasa (16/12).
Surat yang ditandatangani oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kalimantan Barat, Syakirman tersebut, diterima oleh M Zairi sekitar pukul 12.45 WIB. "Tadi yang mengantarkannya staf dari Kantor Gubernur, security saya kemudian memasukkannya ke kantor," ujar Zairi.
Sekarang ini, katanya, ia sedang menghimpun keterangan resmi dari berbagai pihak, mulai dari Polis Di Raja Malaysia (PDRM), Kementerian Luar Negeri Malaysia, serta Kedutaan Besar di Jakarta. "Saya ingin koordinasi dulu dengan PDRM, Menlu dan Dubes Malaysia di Jakarta. Saya tidak mau mendahului mereka," jelasnya.
Rencananya jawaban atas surat Gubernur Cornelis yang akan dibuat oleh Zairi, berkisar kronologis mulai dari diterimanya informasi oleh pejabat Siasatan Jenayah (Sat Reskrim) PDRM Kuching mengenai adanya mobil mencurigakan jenis sedan merek Proton warna biru hingga tembak-menembak.
Polisi Malaysia, kata Konsul, kala itu sama sekali tidak tahu apakah itu WNI atau warga negara mereka sendiri, saat dilakukan pencegatan.
"Satu di antara lima korban itu ada warga negara kami. Namanya, Azalizam Bin Samad. Istrinya orang Indonesia asal Sanggau, ia yang mengidentifikasi para korban ke Kuching. Polisi Malaysia ketika itu tidak tahu apakah mereka WNI atau WN Malaysia saat diminta berhenti, " jelas Zairi.
Selain Azalizam Bin Samad, empat korban lainnya bernama Sayuti bin Abdul Naser, Abang Mahmud Hadi Bin Abang Syafri, Sunardi bin Lasri, dan Marhaban Bin Samsuddin.
Saat diminta berhenti, kata Zairi menceritakan kronologis peristiwa 4 Desember 2008 silam, mereka malah kabur. Terjadi kejar-mengejar antara personil PDRM berjumlah delapan orang yang menggunakan mobil van dengan lima orang penumpang di sedang Proton itu.
"Tidak ada pilihan lain, polisi mesti membela diri, mereka diserang. Mobil yang digunakan merupakan mobil curian. Di dalamnya terdapat tiga set nopol palsu," jelas Zairi.
Polisi Malaysia akhirnya bisa memotong dan berhenti pas depan sedan Proton di Jl Kota Semarahan sekitar pukul 05.30 pagi waktu setempat. Seorang penumpang di sedan itu keluar sambil mengeluarkan senjata api jenis revolver.
Satu tembakan diarahkan ke polisi Malaysia mengenai mobil. Sedangkan tiga lainnya, sambil menghunus parang dan pisau, mengejar polisi.
"Kita turut berduka cita kepada keluarga yang ditinggalkan. Sekali lagi tidak ada maksud untuk menembak apalagi hingga mati. Jika mereka berhenti, tidak akan seperti ini," tuturnya sambil berempati kepada keluarga yang ditinggalkan.
Dalam mobil curian tersebut didapati satu unit laptop, linggis, senapan angin, senjata api jenis revolver beserta butir peluru dan satu selongsong, besi pemotong, satu topeng, mobil curian, sarung tangan, sebatang nibung, pemukul besi, 3 set nopol palsu Malaysia, dan beberapa tangkal azimat. (Fakhrurrodzi/Tribun Pontianak)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang