Gubernur Kalbar Layangkan Surat ke Konjen Malaysia

Kompas.com - 16/12/2008, 22:48 WIB

PONTIANAK, SELASA - Janji Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis untuk mengirimkan surat meminta kronologis peristiwa penembakan empat warga negera Indonesia (WNI) asal Kabupaten Sanggau kepada Konjen Malaysia ditepati.

"Surat Pak Gubernur sudah saya terima, isinya meminta kronologis kejadian itu. Besok (Rabu, 17/12) Insya Allah saya balas dan langsung mengantarkannya ke Pak Gubernur," ungkap Konsul Malaysia, M Zairi M Basri kepada Tribun, Selasa (16/12).

Surat yang ditandatangani oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kalimantan Barat, Syakirman tersebut, diterima oleh M Zairi sekitar pukul 12.45 WIB. "Tadi yang mengantarkannya staf dari Kantor Gubernur, security saya kemudian memasukkannya ke kantor," ujar Zairi.

Sekarang ini, katanya, ia sedang menghimpun keterangan resmi dari berbagai pihak, mulai dari Polis Di Raja Malaysia (PDRM), Kementerian Luar Negeri Malaysia, serta Kedutaan Besar di Jakarta. "Saya ingin koordinasi dulu dengan PDRM, Menlu dan Dubes Malaysia di Jakarta. Saya tidak mau mendahului mereka," jelasnya.

Rencananya jawaban atas surat Gubernur Cornelis yang akan dibuat oleh Zairi, berkisar kronologis mulai dari diterimanya informasi oleh pejabat Siasatan Jenayah (Sat Reskrim) PDRM Kuching mengenai adanya mobil mencurigakan jenis sedan merek Proton warna biru hingga tembak-menembak.

Polisi Malaysia, kata Konsul, kala itu sama sekali tidak tahu apakah itu WNI atau warga negara mereka sendiri, saat dilakukan pencegatan.

"Satu di antara lima korban itu ada warga negara kami. Namanya, Azalizam Bin Samad. Istrinya orang Indonesia asal Sanggau, ia yang mengidentifikasi para korban ke Kuching. Polisi Malaysia ketika itu tidak tahu apakah mereka WNI atau WN Malaysia saat diminta berhenti, " jelas Zairi.

Selain Azalizam Bin Samad, empat korban lainnya bernama Sayuti bin Abdul Naser, Abang Mahmud Hadi Bin Abang Syafri, Sunardi bin Lasri, dan Marhaban Bin Samsuddin.

Saat diminta berhenti, kata Zairi menceritakan kronologis peristiwa 4 Desember 2008 silam, mereka malah kabur. Terjadi kejar-mengejar antara personil PDRM berjumlah delapan orang yang menggunakan mobil van dengan lima orang penumpang di sedang Proton itu.

"Tidak ada pilihan lain, polisi mesti membela diri, mereka diserang. Mobil yang digunakan merupakan mobil curian. Di dalamnya terdapat tiga set nopol palsu," jelas Zairi.

Polisi Malaysia akhirnya bisa memotong dan berhenti pas depan sedan Proton di Jl Kota Semarahan sekitar pukul 05.30 pagi waktu setempat. Seorang penumpang di sedan itu keluar sambil mengeluarkan senjata api jenis revolver.

Satu tembakan diarahkan ke polisi Malaysia mengenai mobil. Sedangkan tiga lainnya, sambil menghunus parang dan pisau, mengejar polisi.

"Kita turut berduka cita kepada keluarga yang ditinggalkan. Sekali lagi tidak ada maksud untuk menembak apalagi hingga mati. Jika mereka berhenti, tidak akan seperti ini," tuturnya sambil berempati kepada keluarga yang ditinggalkan.

Dalam mobil curian tersebut didapati satu unit laptop, linggis, senapan angin, senjata api jenis revolver beserta butir peluru dan satu selongsong, besi pemotong, satu topeng, mobil curian, sarung tangan, sebatang nibung, pemukul besi, 3 set nopol palsu Malaysia, dan beberapa tangkal azimat. (Fakhrurrodzi/Tribun Pontianak)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau