Wapres: Saat Krisis Genjot Infrastruktur

Kompas.com - 20/12/2008, 19:32 WIB

BANJARMASIN, SABTU - Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta pada masa krisis saat ini daerah segera menggenjot pembangunan infrastruktur, baik itu jalan, pelabuhan, listrik dan lainnya untuk kebutuhan investasi masa yang akan datang. "Pada masa krisis saat ini, kesempatan bagi pemerintah untuk melakukan pembangunan infrastruktur mumpung seluruh harga kebutuhan sedang murah atau turun," kata Wapres saat rapat membahas perkembangan pembangunan pabrik peleburan biji besi dan tambang batu bara di Banjarmasin, Kalsel, Sabtu (20/12).

Menurut Wapres, pemerintah daerah jangan hanya berpikir sampai 2009 saja, tetapi harus berpikir jauh untuk 2011 hingga 2015 karena pada masa itu seluruh sektor berkembang pesat diluar dugaan pemikiran saat ini. "Seperti misalnya, pembangunan jaringan listrik jangan hanya setengah-setengah, tetapi dibangun daya yang besar sekalian sehingga kebutuhan masa depan tercukupi," kata Wapres.

Wapres mengingatkan, jangan sampai kesalahan masa lalu kembali terulang seperti saat ini dimana pada saat krisis seluruh pembangunan dihentikan. Sehingga pada saat dunia usaha berkembang pesat, kemajuan zaman dan pertumbuhan ekonomi berkembang, infrastruktur masih tertinggal  jauh.

Akibatnya, listrik kurang, pembangunan jalan tidak lagi seimbang dengan pertumbuhan manusia maupun alat transportasi akibatnya kemacetan terjadi dimana-mana. "Jadi saat ini cara berpikirnya harus dibalik, pada saat krisis justru harus dimanfaatkan untuk mendorong pembangunan sehingga pada saat seluruh sektor mengalami kenaikan kita sudah siap," katanya.

"Bangun PLTU dengan kapasitas yang besar sekalian, karena pada saat krisis berakhir kebutuhan akan meningkat tajam, banyak orang memanfaatkan kulkas, kipas angin, AC dan lain sebagainya," sambung Wapres.

Gubernur Kalsel Rudy Ariffin mengungkapkan, pada awal Januari 2009 Kalsel akan dibangun PLTU 2 x 65 megawatt yang didanai oleh konsorsium Bank Pembangunan Daerah (BPD) beberapa daerah bersama dengan PT PLN. Pembangunan dua pembangkit yaitu PLTU Asam-Asam Unit III dan IV tersebut untuk memenuhi kebutuhan listrik wilayah Kalsel dan Kalimantan Tengah yang hingga kini masih mengalami kekurangan daya.

Selain bidang kelistrikan, pembangunan beberapa infrastruktur lainnya di Kalsel kini juga dipercepat seperti jalan Trans Kalimantan Poros Selatan, pelabuhan dan lainnya. Seluruh pembangunan tersebut selain untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kalsel juga untuk mendukung tumbuhnya investasi di Kalsel.

Wapres melakukan kunjungan kerja selama satu hari di Kalsel, selain melihat perkembangan pembangunan peleburan biji besi juga melihat perkembangan industri tambang batu bara. Dalam kunjungan tersebut Wapres didampingi Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Menneg BUMN Sofyan Djalil, Mendagri Mardiyanto dan Menteri Perhubungan Jusman Syafei Djamal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau