EMPAT jam sudah keluarga almarhum Karso (28) menunggu. Minggu (30/12) sore, ambulans pengangkut jenazah akhirnya tiba. Puluhan warga Desa Jipang, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, langsung menyambutnya dengan isak tangis.
Yang memprihatinkan, jenazah Karso yang datang dari Malaysia itu dimasukkan dalam peti berselimut karung serat goni!
Karso adalah anak pertama dari empat orang anak Saliyah yang sudah tiga tahun ini bekerja di Malaysia sebagai tenaga kerja konstruksi. Pada Jumat pekan lalu, dia terjatuh dari lantai tiga sebuah gedung yang sedang dibangun di Pulau Penang, Malaysia, hingga tewas.
Kisah sedih yang sama seperti sejumlah kasus tenaga kerja Indonesia (TKI) yang tewas di luar negeri. Selama bulan Desember ini, setidaknya ada empat kasus TKI asal Banyumas dan Cilacap tewas di Singapura dan Malaysia, termasuk Karso. Apakah ini masih dianggap kisah sedih yang biasa?
Karso berangkat ke Malaysia pada akhir tahun 2005 lalu melalui jasa seseorang yang menawarkan pekerjaan. Singkatnya, dia berangkat ke Malaysia secara ilegal, tak melalui perusahaan penyedia tenaga kerja Indonesia swasta (PPTKIS) yang resmi. Kala itu dia berangkat bersama dua orang teman sedesanya, Darsito dan Tasiwan.
Namun, kedua temannya itu pulang kembali ke Indonesia pada awal 2008 karena merasa upah yang diperolehnya relatif minim dan banyak dipotong oleh agen tenaga kerja tempatnya bernaung di Singapura.
Contohnya untuk pajak penghasilan, kata Darsito, seharusnya cukup menyetorkan 1.200 ringgit per tahun kepada Pemerintah Singapura. Namun, oleh agen tenaga kerja setempat dia diminta menyetor 2.600 ringgit untuk tahun pertama bekerja dan 2.100 ringgit untuk tahun kedua bekerja.
Menurut penuturan Darsito, Karso tergolong tenaga kerja yang diberikan dispensasi oleh agen, tak menyetorkan pajak karena sesuatu alasan. Sebagai konsekuensinya, agen tak memberikannya uang santunan apa pun jika dia mengalami kecelakaan kerja. Untuk pemulangan jenazahnya ini, misalnya, agen juga tidak memberikan santunan. "Apalagi pemulangannya ini sudah ditanggung oleh agen di Singapura," katanya.
Namun, apalah bedanya nasib TKI ilegal seperti Karso dengan nasib TKI legal lainnya. Sepekan sebelumnya pada 21 Desember, Mujiah (31), seorang TKI legal asal Desa Kedawung, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, juga dipulangkan dari Singapura dalam kondisi meninggal. Menurut suaminya, Tusliman (38), Mujiah yang diberangkatkan ke Singapura oleh PT Mangunjaya Perkasa Cilacap, meninggal setelah terjatuh dari lantai tiga apartemen tempatnya bekerja.
Hingga saat ini, menurut Kepala Cabang PT Mangunjaya Perkasa Cilacap, Bernard Watimena, kasus meninggalnya Mujiah masih dalam proses pemeriksaan kepolisian Singapura. "Sejauh ini tak ada indikasi penganiayaan pada Mujiah," ucapnya.
Namun, menurut penuturan Tusliman, sebelum meninggal istrinya pernah mengeluh tak betah bekerja di Singapura. Majikannya menyita telepon genggam sehingga dia tak bisa berkomunikasi dengan keluarganya di Cilacap. "Dia mengeluhkan itu pun dengan cara menelepon secara sembunyi-sembunyi, saat majikannya tak ada di rumah," tuturnya.
Hampir setiap kasus penganiayaan maupun kematian pada TKI di luar negeri, menurut Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Serikat Buruh Migran Indonesia Jawa Tengah, Kunarsih, berakar dari kurangnya tanggung jawab PPTKIS atau dulu disebut PJTKI terhadap para TKI.
Sekarang yang perlu dibenahi adalah PPTKIS. Umumnya, mereka tak pernah memberikan pengetahuan apa pun terkait hak-hak para TKI. "Akhirnya, sering kali para TKI dieksploitasi oleh majikan maupun agen tempatnya bernaung," katanya menjelaskan.
Seperti yang diungkapkan Darsito, dia sama sekali tak mengetahui apa hak-haknya sebagai TKI di Singapura meski ilegal sekalipun. "Agen tempat saya bekerja di Singapura tak pernah memberitahukan saya, apa hak-hak saya. Saya hanya disuruh bekerja dan setor pajak," ucapnya.
Lantas, apa bedanya nasib para TKI itu dengan perbudakan di masa kolonial. Mungkin cuma satu, kini kita menjadi obyek perbudakan bagi negara tetangga dan bangsa sendiri. Tetapi dari itu semua, bukankah harapan dan kesempatan hidup manusia layak diperjuangkan?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang