Umi Dahlan Meninggal

Kompas.com - 01/01/2009, 20:15 WIB

BANDUNG, KAMIS- Pelukis perempuan Jawa Barat Umaijah Dahlan atau Umi Dahlan menghembuskan nafas terakhir di rumahnya di Jalan Taman Sari 22 A Bandung, Kamis (1/1) sekitar pukul 07.30 pagi tadi. Pada hari yang sama, jenazahnya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Jabangbayi, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, pukul 16.15.

Makam pelukis yang pernah menghasilkan lukisan Pemandangan Merah pada tahun 1980 ini bersandingan dengan makam ibunya, dan kakaknya.

"Bu Umi memang sudah pesan jauh-jauh hari agar dimakamkan di samping ibunya. Dia lahir dan besar di Cirebon. Baru ketika memasuki masa kuliah ia di Bandung," kata Taufik, salah satu kemenakannya.

Salah seorang kerabat lainnya, Lia Yusuf, mengatakan, Umi beberapa waktu terakhir menderita penyakit gula dan baru selesai menjalani operasi tulang sekitar 1,5 bulan lalu. 

"Hal itu menyebabkan kesehatannya merosot. Semenjak pulang 1,5 bulan lalu dari operasi, lebih banyak berbaring di tempat tidur. Lagipula Bu Umi sudah tidak aktif lagi melukis sejak tahun 2007," katanya.

Penghargaan

Pelukis beraliran abstrak yang dilahirkan di Cirebon, 13 Agustus 1942, ini menjadi satu dari sedikit pelukis perempuan ternama di Indonesia. Karyanya tidak hanya dinikmati di dalam negeri. Dalam beberapa kesempatan, karya Umi melanglang buana dari Perancis, Philipina, Yordania, Jepang, dan Denmark. Atas jasanya pada seni lukis Indonesia, Umi dianugerahi Satyalencana Karya Satya 30 tahun dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 25 Juli 2006.

Tangan dinginnya sebagai dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung juga melahirkan seniman berbakat. Di antaranya Acep Zam Zam Noer, Diyanto, hingga Isa Perkasa.

Menurut Soenaryo, pimpinan Selasar Soenaryo Arts Space, meskipun lukisan Umi terhitung sedikit dibandingkan pelukis lainnya, bukan berarti Umi malas. Alasannya, ia sengaja mengambil waktu lama agar bisa membuat lukisan yang sempurna. Baik dari komposisi warna atau pemilihan tema.

Selain itu, Umi dikatakan Soenaryo sebagai pelukis yang konsisten dan setia pada kreasinya. Di tengah perkembangan zaman, Umi tetap fokus pada tema abstrak. Hal itu tidak menurunkan kualitas lukisan. Justru, Umi mampu mengeksplorasi lebih dalam tentang gaya melukis abstrak.

Hal yang sama dikatakan Acep Zam Zam Noer. Umi dikatakan salah satu guru yang sangat memperhatikan detail lukisan. Ia tidak ingin karya lukisan dihasilkan dalam bentuk massal dengan waktu yang cepat. Hal itu menurutnya hanya mengurangi keindahan seni lukis itu sendiri.

"Ia juga dikenal sebagai seorang yang religius. Banyak sisi religiusnya diungkapkan dalam lukisan," kata Acep.

Keinginan terakhir

Warsini, salah seorang pembantu pribadinya, mengatakan, kepergian ini menyisakan keinginan yang belum tercapai. Menurut Warsini, baru-baru ini Bu Umi menyatakan keinginannya mengadakan pameran tunggal di Bandung. Ia terakhir kali melakukan pemeran sekitar tahun 2005.

Saat ini, ada tiga lukisan bertema matador yang belum selesai sepenuhnya. Sudah dibingkai tapi masih harus diperbaiki lagi. "Nampaknya itu tidak akan pernah diselesaikan," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau