Sawah Terendam Air, Petani Tegal Gagal Tanam

Kompas.com - 02/01/2009, 19:58 WIB

TEGAL, JUMAT - Akibat sawah mereka terendam air dan terserang keong mas, puluhan petani di Kecamatan Margadana, Kota Tegal gagal tanam. Mereka kehilangan benih yang sudah disebar atau disemai. Bahkan, sebagian petani terpaksa mengubah fungsi sawah mereka untuk memelihar a bandeng, karena bertanam padi sudah semakin sulit dilakukan.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Margamulya, Kecamatan Margadana, Abdul Wahab, Jumat (2/1) mengatakan, setiap musim penghujan, petani di wilayahnya selalu kesulitan memulai tanam. Hal itu karena saluran air Bokong Semar, yang terletak di samping areal persawahan mengalami penyempitan dan sedimentasi.

Akibatnya, air dari wilayah selatan (daerah atas) tidak dapat mengalir ke laut, sehingga meluber dan menggenangi areal persawahan di Kecamatan Margadana, yang berjarak sekitar dua kilometer dari laut. Sejumlah petani yang sudah telanjur menyemai benih ata u menanam bibit, mengalami gagal tanam.

Menurut dia, dari sekitar 130 hektar sawah di sana, sekitar 36 hektar sudah ditanami sejak sebulan lalu. "Dari luasan tersebut, hampir semuanya mengalami gagal tanam. Benih atau bibit tanaman terendam air, sehingga mati," ujarnya.

Selain itu, penyebab gagal tanam karena serangan hama keong mas. Keong mas menyerang bibit tanaman, dan menggerogoti batangnya. Akibatnya, bibit tanaman mati.

Wahab mengatakan, petani sudah berkali-kali menyampaian persoalan tersebut ke pemerintah. Selain menginginkan pelebaran saluran air, mereka juga berharap mendapat bantuan obat. Namun mereka belum mendapatkan solusi.  

 

Benih Bantuan

Petani memang sempat mendapatkan bantuan benih. Namun menurut Wahab, kualitas benih yang diperoleh jelek, sehingga sekitar 60 persennya tidak tumbuh.

Didi Susiyanto (25), petani di Kelurahan Margadana, Kecamatan Margadana mengaku merugi Rp 1 juta, akibat gagal tanam. Ia menyemai benih pada lahan seluas 5.000 meter persegi, sebulan lalu. Namun akibat terendam air dan terserang keong mas, tanaman mati .

Rusbad (50), petani lainnya mengatakan, akibat kondisi tersebut, petani hanya dapat menanami lahannya sekali dalam setahun, sekitar bulan Februari. Saat musim kemarau, mereka juga tidak dapat menanam padi karena air tidak tersedia. Aliran air irigasi tida k sampai ke wilayah tersebut karena tersedot untuk lahan di wilayah selatan. Mereka juga tidak dapat memanfaatkan sumur pantek karena airnya asin.

Wahab mengatakan, saat ini sebagian petani memilih memanfaatkan lahan mereka untuk tambak bandeng. "Dengan modal sekitar Rp 4 juta, mereka bisa mendapatkan Rp 8 juta dalam waktu enam bulan. Petani terpaksa melakukannya untuk menutup pajak tanah dan biaya hidup," katanya.

Meskipun demikian sebenarnya, upaya tersebut justru akan memperburuk keadaan. Munculnya tambak di sekitar areal persawahan akan menimbulkan resapan air asin. "Air tersebut akan mencemari pemukiman dan sawah petani. Kami butuh solusi, agar petani tetap hidup," tuturnya.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau