AS Gagalkan Resolusi PBB

Kompas.com - 04/01/2009, 16:12 WIB

NEW YORK,MINGGU-Pemerintah AS memveto upaya Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi untuk memerintahkan gencatan senjata segera antara Israel dan Hamas, Sabtu (3/1) waktu setempat.

Duta Besar AS untuk PBB Alejandro Wolff mengatakan AS tidak melihat niat baik Hamas untuk menghentikan kekerasan.

Setelah hampir empat jam konsultasi tertutup, para anggota dewan gagal mencapai kesepakatan yang akan meminta Israel dan Hamas mengakhiri perang delapan hari yang menewaskan paling tidak 460 warga Palestina. Itu karena, AS dan Inggris selalu memveto rencana resolusi PBB yang dianggapnya terlalu mengecam negara Yahudi tersebut.

Pertemuan itu adalah sidang ketiga Dewan keamanan  sejak konflik itu meletus  27 Desember. Dubes Perancis Jean Maurice Ripert, yang menjadi ketua dewan itu bulan ini mengatakan "tidak ada persetujuan resmi yang dicapai antara negara-negara anggota" mengenai satu pernyataan tentang Jalur Gaza.

"Tetapi saya menyatakan kecemasan mendalam kami atas meningkatnya aksi kekerasan dan semakin memburuknya situasi dan memperhatikan imbauan kami bagi gencatan senjata segera, berkesinambungan dan dihormati," kata Ripert kepada wartawan setelah sidang itu.

Sebuah rancangan pernyataan yang diajukan oleh Libya atas nama Liga Arab sebelumnya bagi pertimbangan dewan menyatakan "sangat cemas" atas invasi darat Israel itu dan menyerukan pihak-pihak  yang berperang "melaksanakan gencatan senjata segera dan menghormatinya secara penuh".

Akan tetapi, dokumen itu tidak menyebut serangan-serangan roket Hamas terhadap wilayah Israel yang menurut Israel menyebabkan pihaknya melakukan serangan balasan terhadap Jalur Gaza. Dubes AS serta Inggris mengatakan rancangan itu tampaknya terlalu sepihak.

Hari Sabtu siang di Kairo, Sekjen Liga Arab Amr Mussa menuduh  Dewan Keamanan "mengabaikan" serangan-serangan Israel atas Jalur Gaza, dan mengatakan penundaan menyetujui sebuah resolusi adalah bukti gagalnya menangani konflik itu.

"Dengan tetap terusnya masyarakat internasional dan Dewan Keamanan mengabaikan situasi ini adalah sesuatu yang sangat berbahaya," katanya kepada wartawan dalam satu jumpa pers di markas besar organisasi Arab Raya itu di Kairo.

Pada hari Jumat, Presiden AS George W. Bush  menegaskan ia tidak akan mengecam  serangan darat Israel. Ia menyatakan bahwa Israel punya hak untuk membela dirinya terhadap aksi Hamas, yang menembakkan roket-roket ke Israel.

Pada hari Sabtu, juru bicara Deplu AS Sean McCormack  mengatakan pemerintah AS sedang "berusaha bagi satu gencatan senjata  yang tidak akan mengizinkan  terciptanya kembali  status quo, kondisi yang memungkinkan Hamas dapat melanjutkan serangan roket dari Jalur Gaza."

Sekjen PBB Ban Ki moon  menyerukan gencatan senjata untuk menghentikan aksi kekerasan dan mendesak Israel mengizinkan  bantuan kemanusiaan yang dibutuhkan memasuki  wilayah Palestina itu.

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan kantor Ban mengatakan Sekjen telah berbicara dengan PM Israel Ehud Olmert dan menyamapaikan kekhawatiran dan kekecewaannya yang sangat mendalam.

"Kami menyerukan diakhirinya segera operasi darat itu, dan meminta Israel melakukan segala hal yang mungkin untuk menjamin perlindungan terhadap warga sipil dan bantuan kemanusiaan dapat segera masuk ke wilayah itu," kata pernyataan itu.

Dubes Perancis Jean Maurice Ripert menegaskan sikap Prancis, yang mengutuk invasi darat Israel itu. Ia mengatakan invasi itu "menyulitkan usaha-usaha diplomatik" yang bertujuan tercapainya gencatan senjata di wilayah itu.

Presiden Perancis Nicolas Sarkozy direncanakan ke Timur Tengah, Senin, dengan harapan mendapat dukungan dari pemimpin penting  di kawasan itu  tentang satu rencana Perancis  untuk menekan Israel dan Hamas agar memperpanjang gencatan senjata  yang gagal. Pemimpin Perancis itu akan mengunjungi Mesir, Tepi Barat, Israel, Suriah dan Lebanon.

Sementara itu, peninjau tetap Palestina di PBB Riyad Mansoir memperingatkan bahwa jika serangan Israel  tidak segera dihentikan, ribuan lagi warga sipil Palestina akan tewas atau cedera.

"Ini tidak bermoral, ini ilegal, ini tidak bisa diterima dan Dewan Keamanan  tidak dapat terus duduk  berpangku tangan dan tidak memaksa Israel mentaati sikapnya, yang disetujuinya Minggu pagi," kata Mansour. Ketua Majelis Umum PBB Miguel d’Escoto dari Nikaragua  menyebut serangan Israel itu "satu hal yang aneh sekali."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau