Satu-satunya Situs Kota di Indonesia

Kompas.com - 05/01/2009, 17:20 WIB

MENGAPA perusakan situs bekas ibu kota Kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto, menjadi begitu menyesakkan? Selain karena tindakan itu menunjukkan pengabaian dan penghinaan terhadap sejarah, Situs Trowulan juga  memiliki arti yang sangat istimewa secara arkeologis.

Arkeolog senior dari UI, Prof Dr Mundardjito, mengatakan, Situs Trowulan adalah satu-satunya peninggalan purbakala berbentuk kota dari era kerajaan-kerajaan kuno di masa klasik Nusantara, dari abad V sampai XV Masehi.

"Dari kerajaan lain yang tersisa hanya candi-candi atau prasasti," ungkap Mundardjito.

Peninggalan berwujud kota sangat penting karena dengan mengetahui lanskap urban masa lalu kita bisa mempelajari kehidupan masyarakat pada waktu itu secara lengkap. Maka, jika Yunani memiliki Acropolis di Athena, Italia menyimpan reruntuhan Pompeii, Kamboja bangga dengan Angkor, dan Peru masih setia merawat Machu Picchu, Indonesia hanya memiliki Trowulan yang hingga saat ini pun belum tergali sempurna.

Sejak Raffles

Menurut buku Mengenal Kepurbakalaan Majapahit di Daerah Trowulan, penelitian ilmiah pertama terhadap Trowulan dilakukan oleh Wardenaar atas perintah Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1815. Hasil penelitian itu kemudian dimasukkan Raffles di bukunya, History of Java.

Sepanjang abad ke-19, penelitian tentang Trowulan dilakukan oleh pihak kolonial Belanda. Tanggal 24 April 1924, Bupati Mojokerto RAA Kromodjojo Adinegoro bekerja sama dengan seorang arsitek dari Belanda, Ir Henry Maclaine Pont, mendirikan komunitas peneliti peninggalan Majapahit bernama Oudheeidkundige Vereeneging Majapahit (OVM). Dua tahun kemudian, mereka merintis berdirinya Museum Trowulan yang pertama.

Tahun 1942, museum tersebut ditutup seiring dengan masuknya Jepang. Pada periode inilah, menurut Mundardjito, banyak hasil penelitian tentang peninggalan Majapahit di Trowulan yang hilang atau terbakar. ”Saya sedang mencoba mengumpulkan catatan penelitian sejak kemerdekaan hingga dari Pelita I sampai sekarang, tetapi sudah susah juga,” tuturnya.

Mundardjito berharap penggalian terhadap Situs Trowulan terus berlanjut sehingga suatu saat nanti seluruh kota itu akan tersingkap dan bisa dinikmati publik, seperti di Acropolis atau Pompeii. ”Selama ini, setelah kami gali dan teliti, situs itu kami tutup plastik dan diuruk tanah lagi supaya tidak rusak. Nanti setelah seluruh kota terungkap dan selesai diteliti, semua situs kami buka kembali dan menata untuk tujuan wisata sejarah,” papar Mundardjito.

Namun, sebelum cita-cita itu terlaksana, situs yang ada pun sudah semakin porak-poranda.... (DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau