Penanganan Banjir Jakarta Terkendala Dana sejak Zaman Belanda

Kompas.com - 08/01/2009, 21:17 WIB

JAKARTA, KAMIS — Permasalahan banjir di Jakarta tidak pernah selesai sejak masa penjajahan Belanda. Bahkan, bukan saat ini saja pembangunan banjir kanal yang tak kunjung selesai terbentur masalah dana.

"Kalau kita lihat, problem dana sudah ada sejak zaman kolonial," kata Dr Restu Gunawan, staf Direktorat Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Priwisata saat diskusi mengenai Kali Ciliwung di kantor redaksi harian Kompas, Kamis (8/1).

Restu yang dikenal sebagai pakar sejarah Jakarta mengatakan, proyek pengendalian banjir yang dicanangkan tahun 1913 mengalami pembengkakan dana. Saat rencana awal dana yang dibutuhkan diperkirakan 1.140.351 gulden. Namun, sampai 1919 membengkak hingga 2.793.000 gulden.

Terkait masalah pendanaan, Kepala Balai Besar Wilayah Ciliwung dan Cisadane Departemen Pekerjaan Umum Pitoyo Subandrio menilai penggunaannya harus efektif. Jika memang ditujukan untuk mengendalikan banjir, dana yang dikeluarkan harus diperuntukkan semaksimal mungkin.

"Saya tidak setuju pembangunan Waduk Ciawi jika tujuannya untuk mengendalikan banjir. Silakan saja suruh yang lain bangun, tapi saya tidak mau kalau disuruh membangun," ujarnya. Ia beralasan jika dibangun, kapasitas tampung Waduk Ciawi diperkirakan hanya 34 juta kubik. Dengan biaya yang sama, pembangunan waduk di daerah Jatigede lebih menguntungkan karena dapat menampung 1000 juta meter kubik.

Ia juga menilai usulan pembangunan tunnel reservoar di bawah Banjir Kanal Barat tidak efektif. Saat musim kemarau memang kering. Namun, saat musim hujan luapan air ke Jakarta sudah begitu banyak.

Pembangunan BKT (Banjir Kanal Timur) akan mengatasi limpahan air tersebut. Dengan dukungan dana saat ini yang mencapai Rp 2 triliun dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), ia yakin pembangunan BKT (Banjir Kanal Timur) dapat diselesaikan akhir tahun ini. "Asal pembebasan lahan selesai Maret ini, saya yakin infrastruktur selesai akhir tahun 2009," ujarnya.

Selain membangun kanal utama, pihaknya juga sudah mengusulkan pembuatan dua sudetan di belakang RS Budi Asih dan Bidara Cina di Jakarta Timur untuk mengatur limpahan air yang sering berlebihan ke kawasan tersebut.

Namun, menurutnya, cara paling efektif mengendalikan banjir adalah mengembalikan aliran Sungai Ciliwung sesuai dengan fungsinya. Hal ini membutuhkan pola pikir masyarakat yang tidak "kampungan" seperti membangun permukiman di bantaran sungai, seenaknya membuang sampah, dan mengubah daerah resapan menjadi permukiman.

Selain itu, memulihkan daerah resapan air yang masih bisa diselamatkan. "Di Jabodetabek kita lihat ada 200 situ dan sedang kita normalisasi," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau