Korban Tewas di Gaza Meningkat Menjadi 763

Kompas.com - 09/01/2009, 06:17 WIB

KOTA GAZA, KAMIS — Jumlah korban tewas akibat ofensif Israel di Jalur Gaza meningkat menjadi 763, Kamis (8/1), setelah serangan-serangan baru. Puluhan mayat ditemukan selama penghentian sesaat pengeboman Israel, kata beberapa petugas medis.

Mouawiya Hassanein, Kepala Badan Pelayanan Darurat Gaza, mengatakan, sekitar 20 orang, banyak di antaranya wanita dan anak-anak, tewas dalam serangan baru militer Israel pada Kamis.

Petugas penyelamat juga menemukan banyak mayat di antara puing-puing ketika mereka melakukan pencarian selama penghentian perang selama tiga jam di Gaza antara pukul 11.00 GMT
(pukul 18.00 WIB) dan pukul 14.00 GMT (pukul 21.00 WIB), katanya.

Jumlah kematian akibat serangan Israel telah melampaui 700 orang pada Rabu malam, tetapi Hassanein mengatakan kepada AFP, "Jumlah kematian telah meningkat lagi menjadi 763 setelah penemuan banyak mayat di zona-zona yang tidak bisa kami jangkau sebelumnya, khususnya di sekitar Jabaliya dan Atatra di wilayah utara dan Zeitoun di Kota Gaza."

Sementara itu, Kamis, Komite Internasional Palang Merah (ICRC) menuduh Israel tidak membantu korban-korban yang cedera di sebuah daerah Gaza, di mana petugas penyelamat menemukan empat anak kecil berkumpul di sekitar mayat ibu mereka yang terlalu lemah untuk berdiri.

Militer Israel "telah gagal memenuhi kewajibannya menurut hukum kemanusiaan internasional untuk merawat dan mengangkut korban-korban yang terluka," kata ICRC dalam sebuah pernyataannya.

Mereka mengatakan, pasukan Israel berusaha mengusir petugas penyelamat ketika
mereka akhirnya menjangkau lokasi mengerikan di daerah Zeitun yang dihancurkan di Kota Gaza pada Rabu, empat hari setelah jalur aman diminta dibuka.

Penundaan membuka akses bagi petugas penyelamat itu merupakan tindakan yang "tidak bisa diterima", kata ICRC.

Kekerasan di dan sekitar Gaza meletus lagi setelah gencatan senjata enam bulan berakhir pada 19 Desember.

Israel membalas penembakan roket pejuang Palestina ke negara Yahudi tersebut dengan melancarkan gempuran udara besar-besaran dan serangan darat ke Gaza dalam perang tidak sebanding yang mendapat kecaman dan kutukan dari berbagai penjuru dunia.

Kelompok Hamas menguasai Jalur Gaza pada Juni tahun lalu setelah mengalahkan pasukan Fatah yang setia kepada Presiden Palestina Mahmud Abbas dalam pertempuran mematikan selama beberapa hari.

Sejak itu wilayah pesisir miskin tersebut dibloklade oleh Israel. Palestina pun menjadi dua wilayah kesatuan terpisah—Jalur Gaza yang dikuasai Hamas dan Tepi Barat yang berada di bawah pemerintahan Abbas.

Uni Eropa, Israel, dan AS memasukkan Hamas ke dalam daftar organisasi teroris.

Ehud Olmert yang akan mengakhiri tugas sebagai PM Israel telah memperingatkan mengenai konfrontasi yang akan segera terjadi dengan Hamas meski gencatan senjata yang ditengahi Mesir diberlakukan pada 19 Juni.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau