TNI Netral dalam Pemilu 2009

Kompas.com - 09/01/2009, 16:06 WIB

BOGOR, JUMAT - Komandan Resor Militer 061/Suryakancana Kolonel (Inf) Agus Sutomo memastikan anggota TNI di wilayah komadonya akan bersikap netral saat pesta demokrasi pemilihan umum mendatang. Anggotanya dilarang memberi fasilitas apapun apalagi terlibat dalam kampanye partai politik.

"Dulu tentara paling depan, pang jago na, karena tuntutannya memang demikian. Zaman reformasi TNI ada rambu-rambunya, tidak boleh politik praktis. Apalagi sekarang, tahun politik. Rambu-rambunya makin tegas, netralitas. TNI harus berdiri disemua golongan, bukan alat pemerintah, tapi alat Negara," katanya.

Agus meyatakan hal itu saat bersilahturahmi dengan para pejabat Musyawarah Pimpinan Daerah Kota Bogor dan sejumlah tokoh masyarakat Bogor, di Ruang Rapat I Balai Kota, Jumat (9/1) pagi. Agus bersilahturami dalam kaitan memperkenalkan diri sebagai Danrem 061/Suryakancana yang baru. Ia menggantikan danrem sebelumnya, Kolonel (Inf) AS Kembaren, sejak 24 Desember 2008.

Menurut Agus, saat ini Indonesia menjadi negara yang paling demokrasi di dunia. "Kalau ada hal yang menonjol, sampai tukang becak pun boleh berkomentar dan tidak dilarang. Sedangkan di Amerika Serikat yang dicitrakan sebagai negara demokrasi, kalau terjadi apa-apa, yang ngomong cuma satu orang, presidennya, George W Bush. Inilah keniscayaan demokrasi," katanya.

"Kita bersyukur pemerintah membuka kesempatan seluas-luasnya. Tetapi Insya Allah, pelan-pelan kita akan menuju pada demokrasi kebersamaan, demokrasi yang beretika dan santun, karena itu budaya kita. Demokrasi kita bukan demokrasi tanpa batas-batas," katanya.

Berkaitan dengan Tahun 2009 sebagai Tahun Politik, Danrem 061/Suryakancana menegaskan bahwa anggota jajarannya akan bersikap netral, berdiri di semua golongan dan rakyat, untuk bersama masyarakat sama-sama menyukseskan pesta demokrasi. Agus mengaku sudah memberi arahan jelas kepada jajarannya, sebagaimana arahan Panglima TNI, bahwa setiap tentara tidak boleh memberi fasilitas apa pun, apalagi terlibat, dalam kampanye partai politik.

"Anggota kami nanti tidak boleh berada di TPS-TPS (tempat pemungutan suara), dalam radius 100 meter. Nanti babinsa-babinsa akan bawa-bawa meteran untuk ngukur tempat dia berdiri. Kalau diukur jarak berdiri dengan TPS sudah 102 meter, berarti dia bebas, tidak melanggar ketentuan. Jadi, berjarak 102 meter, bukan 100 meter lagi, biar dia benar-benar aman," katanya setengah bergurau. Babinsa adalah bintara (tentara golongan bintara) yang menjadi pembina masyarakat di tingkat wilayah desa/kelurahan.

Tiga Program Pemerintah

Pada kesempatan silahturahmi itu, Kolonel Agus Sutomo juga menguraikan tentang kebijakan dari pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang dikatakannya terbagi dalam tiga cluster. Cluster pertama kebijakan itu adalah perlindungan sosial masyarakat, yang disebut orang sebagai ikan, yakni program Bantuan Tunai Langsung (BTL), Biaya Operasional Sekolah (BOS), Beras Miskin (Raskin), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), dan subsidi pupuk. "(Subsidi pupuk-Red) walaupun ada kelangkaan, dicari-cari pupuknya, ternyata ada di kebun-kebun kelapa sawit. Oknum-oknum dibawah bermain, padalah niat pemerintah itu baik," katanya.

Kebijakan yang termasuk cluster kedua, yang disebut kail, berupa Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. Sedangkan cluster ketiga berupa Kredit Usaha Rakyat, dimana pemerintah menjadi penjamin dananya.

"Untuk PNPM Mandiri, dananya pada tahun 2008 lalu mencapai Rp 57 triliun, yang langsung dikirim ke rekening camat. Ada sekitar 3.500 kecamatan, yang diberi dana masing-masing anatar Rp 2,5 miliar sampai Rp 3 milar. Yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur, yang berarti ada pekerjaan, sehingga menggerakkan ekonomi lokal," katanya.

Kebijakan yang menurut Agus berlatar bagaimana mengurangi pengangguran, meningkatkan penghasilan, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan kesehatan. Dengan tujuan akhirnya, untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan kamtibmas kondusif.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau