TOKYO, JUMAT — Dua pabrikan mobil di Jepang, Toyota Motor Corp (TMC) dan Nissan Motor Co (NMC), Jumat (16/1) mengeluarkan kebijakan yang berkaitan dengan produksi kendaraan. Tujuannya menekan biaya operasional untuk meningkatkan laba, mengingat krisis ekonomi global yang diperkirakan belum pulih sampai akhir tahun ini.
Toyota sebagai produsen mobil terbesar di dunia mengambil langkah dengan mengurangi produksinya di beberapa pabrik di Amerika Utara selama beberapa bulan dalam upaya mengurangi setengah dari inventaris kendaraannya.
Para industri otomotif kini sedang bergelut lantaran merosotnya penjualan di pasar-pasar Amerika Utara, Eropa, dan Jepang. Kondisi itu juga menjangkit sampai ke India, China, dan Rusia.
Toyota telah memperingatkan bahwa perusahaannya akan mencatat kerugian operasional tahunan yang pertama kalinya di tahun fiskal ini. Pihaknya menambahkan bahwa inventaris kendaraan di pabrik Amerika Utara-nya berkisar antara 80 dan 90 hari. Pihaknya berharap, pemotongan separuh dari total produksi dalam kuartal kedua tahun ini.
Pekan lalu, Toyota mengatakan bahwa perusahaannya akan menghentikan produksi pada pabrik-pabriknya yang tersebar di Jepang selama 11 hari dari Februari hingga Maret. “Persediaan stok kendaraan sekarang ini mencapai level tertinggi buat Toyota. Hal ini disebabkan penjualan anjlok 30 sampai 40 persen setiap bulannya,” bilang analis Okasan Securities, Yasuaki Iwamoto.
Tak ada pilihan lain bagi Toyota untuk mengurangi jumlah produksinya di Amerika Utara, termasuk kendaraan yang penjualannya terbaik, seperti Toyota Camry dan Corolla. Kemudian, mereka juga menunda berjalannya pabrik baru di Mississippi untuk memproduksi Prius hybrid mulai 2010.
Produksi pindah ke Thailand
Adapun produsen mobil terbesar ketiga di Jepang, Nissan, nasibnya serupa dengan Toyota. Di bawah kepemimpinan Carlos Ghosn sebagai Chief Executive Officer (CEO) sejak 1999, hal itu tercatat sebagai kerugian operasional pertama.
Dengan terjadinya krisis ekonomi global, Nissan terpaksa memotong biaya produksi sebesar 30 persen. Kemudian, proyek produksi sedan subkompak Nissan March dialihkan ke Thailand dengan harapan bisa sekaligus memproduksi lebih banyak suku cadangnya.
Menguatnya nilai yen terhadap dollar membuat Nissan Jepang mengimpor kendaraannya. Kebijakan lainnya adalah memotong biaya pengembangan sebesar 20 persen untuk program lima tahun ke depan.
Jurubicara Nissan, Yuko Matsuda, mengatakan bahwa ia belum bisa memberi komentar mengenai rencana produksi mendatang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang