Njamas Keris untuk Melestarikan Budaya

Kompas.com - 17/01/2009, 01:44 WIB

Oleh Runik Sri Astuti

Mbah Komari (73) baru saja duduk di sebuah lincak (tempat duduk dari bambu) di perempatan Desa Badal, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Saat menyentuh lincak, sang cucu memanggil-manggilnya, "Eyang-eyang cepat pulang, ada tamu di rumah."

Dengan tergopoh-gopoh, ia berjalan menuju rumahnya yang berjarak 50 meter. Di teras rumah, telah menunggu seorang laki-laki berumur 49 tahun. Setelah bersalaman dan saling bertegur sapa, tamu tersebut langsung mengutarakan maksud kedatangannya.

"Minta tolong njamas (membersihkan) pusaka, Mbah. Saged mboten (apakah bisa)?" kata sang tamu seraya mengeluarkan sebilah keris dari dalam warangkanya (tempat menyimpan keris). Mbah Komari hanya mengangguk, lalu menerima pusaka tersebut dan menyimpannya di lemari. Lalu sang tamu pulang ke Tulungagung.

Mbah Komari dikenal sebagai sesepuh di Desa Badal. Selain menjadi juru kunci Makam Aryo Bangah, ayah lima anak ini juga dikenal sebagai pujangga dan perawat beragam pusaka warisan nenek moyang, seperti keris, mata tombak, dan pedang.

Setiap memasuki bulan Muharam dalam penanggalan Islam atau bulan Sura dalam penanggalan Jawa, ia kedatangan banyak tamu dari berbagai kota di Jawa Timur, terutama Kediri, Tulungagung, Blitar, dan sekitarnya. Tamu-tamu itu meminta tolong Mbah Komari untuk membersihkan pusaka, baik yang dimiliki secara turun-temurun maupun diperoleh dari kolektor.

"Sebulan saya bisa membersihkan 200 pusaka. Tamu-tamu akan ramai berdatangan mulai pertengahan sampai akhir bulan. Mereka percaya bulan Suro adalah bulan baik untuk membersihkan pusaka," katanya.

Pusaka-pusaka yang dibersihkan Mbah Komari sebagian besar bertuah. Pusaka ini memiliki semacam roh atau yoni, istilah Mbah Komari. "Yoni inilah yang harus dijaga agar tetap bersemayam dalam pusaka tersebut. Karenanya, pusaka harus rutin dibersihkan dari karat," ujarnya.

Ada beragam jenis pusaka di negeri ini yang diciptakan sejak Mpu Bromodali dan Mpu Romoyadi di zaman Kerajaan Pajajaran kuno hingga Mpu Gandring, di antaranya keris Kiai Jalak Tilamsari yang dikenal untuk pengasihan dan bisnis. "Caleg yang ingin sukses, biasanya cari keris ini," ucapnya.

Sejak tahun 1958

Mbah Komari menekuni pekerjaan sebagai pencuci pusaka atau pen-jamas sejak tahun 1958. Awalnya ia hanya membersihkan pusaka keluarga. Kemudian, beberapa tetangganya yang memiliki pusaka minta tolong.

Njamas pusaka, apalagi yang bertuah, butuh keahlian khusus. Biasanya, Mbah Komari puasa selama 40 hari sebelum njamas pusaka.

Satu pusaka butuh waktu minimal tiga hari dan maksimal tujuh hari untuk dibersihkan, tergantung kondisinya. Untuk merendamnya, harus menunggu hari baik. Sebelum direndam, juga ada mantera yang diucapkan.

Bagi Mbah Komari, njamas pusaka bukan sekadar membersihkan dari karat. "Dengan merawat pusaka peninggalan nenek moyang, berarti kita juga telah melestarikan warisan budaya bangsa yang tidak ternilai harganya," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau