DEMAK, MINGGU - Tanggul Kali Cabean di Dusun Wangun, Desa Rejosari, Karangawen, Demak yang jebol Sabtu (17/1) sore menyebabkan sebanyak 2.000 rumah terendam air dan 80 anak-anak serta lansia harus dievakuasi. Tidak ada korban jiwa dalam bencana tersebut.
Minggu (18/1) pagi, air yang sebelumnya melimpas di Desa Rejosari, Desa Sidorejo dan Desa Brambang, Kecamatan Karangawen, Demak, berangsur surut. Sebelumnya, ketinggian air mencapai 2,5 meter di Dusun Wangun yang be rada tidak jauh dari lokasi jebolnya tanggul.
Camat Karangawen Edy Rahardjo mengungkapkan, jebolnya tanggul disebabkan oleh tingkat sedimentasi yang sangat tinggi sehingga air yang tidak tertampung menjadi liar. "Ketika air mulai melimpas, secara perlahan air mengikis dinding tanggul. Semakin lama, tanggul pun jebol," ujar Edy.
Tanggul yang terombak itu disebutkan Edy sedang dalam proses perbaikan setelah jebol pertama kali tanggal 30 Desember lalu. Belum selesai perbaikan, karena arus air sangat kencang, k erusakan kini mencapai panjang 15 meter, lebar 6,5 meter dan dalam tujuh meter.
Edy menyebutkan, sebanyak 80 anak-anak, lansia, dan perempuan segera dievakuasi ke posko yang didirikan di Dusun Buweh, Rejosari. Sedangkan kaum laki-laki diminta berjaga-jaga di sekitar tanggul. Salah satu penduduk Dusun Wangun Pantrean (66) mengungkapkan air datang dengan kencang secara tiba-tiba. Di kediamannya, air mencapai ketinggian 1,5 meter. "Yang penting saya dan keluarga selamat dulu," katanya.
Selama tiga tahun terakhir, Edy mengatakan ada 11 titik di sepanjang tanggul yang rusak saat dilanda arus kencang dan mengakibatkan banjir. Menurut Edy, Kali Cabean itu harus segera dinormalisasi agar dapat menampung aliran air.
Bantuan disebutkan Edy datang dari berbagai pihak seperti Palang Merah Indonesia, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jateng, dan Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Kabupaten Demak dan Provinsi Jateng.
Ketua BPBD Jateng Nidhom Azhari menyampaikan, penanganan bencana alam membutuhkan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat setempat. "Masyarakat lah yang paling mengerti wilayahnya. Apalagi mereka yang sudah tinggal bertahun-tahun di daerah bencana," ujarnya.
Nidhom menambahkan, BPBD terus melakukan pelatihan mitigasi bencana untuk masyarakat, sehingga masyarakat lebih siap ketika bencana melanda. Selain itu, koordinasi dengan pihak kabupaten dan kota terus dilakukan terutama untuk bersiaga di titik-titik rawan bencana.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang