Tahanan Guantanamo "Bebas" dari Tuntutan

Kompas.com - 22/01/2009, 04:08 WIB

Oleh Budiarto Shambazy

WASHINGTON, RABU - Sebelum berdansa hingga larut malam, Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Selasa (20/1) waktu setempat di Gedung Putih, memerintahkan penghentian proses peradilan para tahanan di Penjara Teluk Guantanamo.

Obama telah memerintahkan jaksa pengadilan militer di Penjara Teluk Guantanamo, Kuba, untuk menghentikan proses peradilan. Penghentian itu memungkinkan pemerintahan baru meninjau kembali proses peradilan terhadap para tersangka teroris dan proses komisi militer yang menangani tahanan Guantanamo.

”Menteri Pertahanan (Robert Gates) mengeluarkan perintah kepada jaksa agar menyediakan cukup waktu bagi pemerintah melakukan peninjauan ulang atas para tahanan yang saat ini ditahan di Penjara Teluk Guantanamo, Kuba,” demikian isi dokumen yang dipegang jaksa Clayton Trivett itu.

Seorang hakim, Kolonel (Tentara) Patrick Parrish, telah memerintahkan penghentian kasus setidaknya selama 120 hari atau hingga 20 Mei 2009 sesuai perintah. Hal itu langsung menghentikan proses sidang atas lima tersangka serangan 11 September 2001 dan sidang atas Omar Khadr, warga Kanada, yang didakwa membunuh tentara AS, Christopher Speer, dengan granat di Afganistan tahun 2002.

”Penghentian sidang selama 120 hari bisa berdampak terhadap penghentian proses, kemungkinan untuk selamanya,” kata Mayor Angkatan Laut AS, William Kuebler, pengacara untuk Khadr. ”Dia gelisah, bingung akan apa yang terjadi,” kata Kuebler soal Khadr, asal Toronto.

Bagaimana akhir kisah Guantanamo? Kuebler mengatakan belum tahu apa yang akan terjadi, tetapi ada optimisme akan muncul solusi atas kasus Guantanamo.

Pengadilan militer khusus dibentuk tahun 2006 oleh mantan Presiden George W Bush untuk mengadili tersangka teroris di luar pengadilan sipil dan militer. Pentagon menyebutkan, sebanyak 21 orang telah didakwa, 14 orang dibebaskan, dan masih ada 247 tahanan.

Selama beberapa tahun terakhir, sekitar 800 tahanan telah menempati Penjara Teluk Guantanamo, termasuk 527 orang yang dipindahkan ke negara lain untuk ditahan atau dibebaskan. Sebanyak 60 orang telah dibebaskan, tetapi negara asal mereka menolak untuk menerima.

Sepanjang kampanye, Obama menyerukan akan menutup penjara kontroversial itu segera setelah menjadi presiden. Namun, dia juga mengakui penutupan Guantanamo tidak akan semudah yang dibayangkan orang.

Langkah pertama Obama untuk menghentikan proses peradilan tahanan Guantanamo mendapat sambutan. ”Ini adalah langkah pertama yang hebat, tetapi ini hanya langkah pertama,” kata Gabor Rona, Direktur Human Rights First.

Menteri Dalam Negeri Jerman Wolfgang Schaeubl, mengatakan, penciptaan Guantanamo adalah kesalahan besar.

Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter mengirimkan surat kepada Obama bulan ini bahwa Jerman siap menerima semua tersangka yang ditolak di negaranya jika Obama menutup Guantanamo.

Juru bicara Komisi Kehakiman dan Urusan Dalam Negeri Uni Eropa, Michele Cercone, mengatakan, Komisi Uni Eropa senang karena Obama telah mengakhiri sebuah babak yang buruk.

Langkah berikutnya, Obama diperkirakan akan melarang praktik interogasi brutal dengan teknik simulasi penyumbatan napas dengan air (waterboarding) yang disetujui Bush. Praktik ini bertujuan mendapatkan informasi dari para tahanan. Teknik itu telah mencoreng citra AS di seluruh dunia.

Hari pertama

Hari pertama di Gedung Putih, Obama bertemu penasihat militer dan penasihat keamanan nasional terkait perang di Irak dan Afganistan. Obama telah mengatakan akan menarik pasukan AS di Irak dalam 16 bulan. Namun, dia menghendaki upaya lebih keras di Afganistan yang dia sebut sebagai garis depan perang melawan terorisme.

Obama juga bertemu penasihat ekonomi untuk memulai perbaikan ekonomi lewat alokasi paket stimulus 825 miliar dollar AS. ”Untung Kongres segera bekerja soal paket pemulihan, meloloskannya, dan memberikan pekerjaan untuk warga,” kata Obama.

Konfirmasi Senat

Senat AS, Selasa, menyetujui beberapa anggota kunci pemegang kebijakan domestik dalam pemerintahan Obama, di antaranya Menteri Keamanan Dalam Negeri Janet Napolitano, Menteri Energi Steven Chu, Menteri Pendidikan Arne Duncan, Menteri Dalam Negeri Ken Salazar, dan Menteri Pertanian Tom Vilsack.

Hillary Clinton yang ditunjuk menjadi menteri luar negeri belum memperoleh konfirmasi Senat menyusul penolakan seorang anggota Senat dari Partai Republik. Dia diperkirakan menang mudah dalam pemungutan suara di Senat, Rabu.

Menteri Keuangan Timothy Geithner juga belum mendapatkan konfirmasi. Dia masih harus menjelaskan kepada Komite Keuangan Senat soal kegagalannya membayar pajak penghasilan semasa bekerja di Dana Moneter Internasional. ”Kami akan bekerja bersama Presiden Obama untuk memulihkan ekonomi, melindungi keamanan nasional kita, dan memperbaiki pelayanan kesehatan bagi seluruh warga,” kata Ketua Mayoritas Senat Harry Reid.

”Presiden Obama memiliki kabinet yang berisi orang pandai dan berkualitas. Mereka mewakili lintas batas negara, secara geografis maupun politik,” ujar Reid.

Staf Gedung Putih juga mulai bekerja. Kepala Staf Gedung Putih Rahm Emmanuel memerintahkan penghentian semua rancangan peraturan yang diajukan pemerintahan Bush.(AP/AFP/REUTERS/FRO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau