Hari masih pagi. Pukul 08.00 waktu Rafah, Mesir, atau pukul 13.00 waktu Indonesia. Hawa dingin masih menguasai kawasan Gurun Sinai Utara tempat kota Rafah berada, tempat Pintu Gerbang Rafah bercat kuning berdiri kokoh.
Ada tulisan ”Pelabuhan Darat Rafah” di pintu gerbang itu. Orang biasanya menyebut ”Pintu Gerbang Rafah”. Ada jalan masuk dan keluar terpisah yang masing-masing daun pintunya terbuat dari besi.
Di depan pintu puluhan wartawan, laki-perempuan dari berbagai negara bergerombol. Tujuannya sama: masuk ke Gaza. ”Sudah sejak pagi saya dan kawan-kawan di tempat ini, menunggu izin masuk,” kata Yves Dam-Van, kamerawan merangkap produser TV AP yang berkantor di Hanoi, Vietnam.
”Ya, enggak jelas ini sampai jam berapa. Saya akan menunggu terus sampai pintu dibuka,” sambung Kaz, wartawan freelance dari Jepang yang sudah menunggu sejak pukul 07.00.
Seorang perempuan wartawan dari sebuah jaringan televisi mewawancarai sesama wartawan. ”Bisa bahasa Inggris?” tanyanya. Bila dijawab ”bisa”, ia langsung bertanya, ”Jam berapa datang di tempat ini? Mau masuk ke Rafah? Kecewa dilarang masuk? Akan terus menunggu?”
Hampir semua jawaban yang diberikan para wartawan yang diwawancarai sama, ”Kecewa, dan menunggu.”
”Sabar-sabar. Kita harus sabar,” teriak seorang perempuan wartawan dari Swedia yang disambut tawa. ”Journalist no!" Teriak yang lain.
Seorang wartawan Mesir, Fatih, yang bekerja pada JJ Press dari Jepang hanya bisa mengatakan, ”Tak ada informasi sampai saat ini.” Ia lalu mengangkat kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya. ”Makan roti saja. Ini silakan,” katanya sambil menyodorkan sepotong roti.
Di mana-mana, wartawan bergerombol membicarakan kebijakan penutupan pintu gerbang itu. ”Susah. Tidak ada harapan,” kata Ahmad, wartawan dari Jordania.
Harus kecewa
Keinginan masuk Jalur Gaza harus dipegang erat-erat karena Pemerintah Mesir belum mengizinkan wartawan masuk Gaza. Keputusan itu keluar hari Senin (19/1) atau sehari setelah Israel memberlakukan gencatan senjata sepihak, Minggu dini hari.
Padahal, pada hari Minggu, pintu gerbang itu dibuka lebar-lebar bagi siapa saja, termasuk wartawan. Tak kurang dari 59 wartawan lolos masuk pada hari Minggu, tanpa visa. Yang dibutuhkan hanya paspor, surat dari press center Mesir, dan surat keterangan dari kedutaan besar masing-masing negara asal wartawan.
Kedua syarat pertama kami miliki—paspor dan surat dari press center Mesir. Pada hari pertama, kami belum pegang surat dari KBRI karena memang belum dikeluarkan.
Begitu hari Senin siang kami pegang surat dari KBRI yang dikirim lewat faksimile di press center, El Arish. Kami meluncur ke Rafah sekitar 40 kilometer dari El Arish. Mobil sedan yang membawa kami lari dengan kecepatan 130 kilometer per jam.
Begitu sampai di Rafah, sudah banyak wartawan bergerombol di depan pintu gerbang. ”Maaf, baru ada keputusan dari Kairo, wartawan tidak diperbolehkan masuk lagi,” kata seorang polisi di depan pintu gerbang.
”Tadi pagi memang diizinkan. Ada 37 wartawan yang masuk, tetapi sekarang tidak boleh lagi,” tuturnya. Terlihat wajah-wajah kecewa dari wartawan. ”Sampai kapan ini?” tanya seorang wartawan Turki. Petugas hanya mengangkat kedua bahunya.
Jawaban mengangkat bahu itu pula yang kami peroleh hari Selasa (20/1) ketika kami bertanya kepada petugas. ”Wartawan sampai hari ini belum diizinkan masuk,” kata Mos’ad, kawan kami yang pejabat press center di Pintu Gerbang Rafah.
Duduk di depan gerbang sambil menunggu kebaikan hati Mesir saja yang bisa dilakukan wartawan. ”Pintu gerbang akan dibuka setelah Obama dilantik,” gurau seorang wartawan Mesir.
Bisa jadi demikian. Karena penutupan pintu gerbang juga atas permintaan Israel setelah hari Minggu begitu banyak wartawan masuk Gaza. Israel tak mau dunia mengetahui kerusakan akibat ulahnya. ”Ya, kita harus bersabar,” kata rekan wartawan dari Indonesia. Hari Rabu (21/1) petang, kesabaran tadi terobati. Pintu gerbang pun dibuka. (Trias kuncahyono/ Mustafa Abd Rahman dari Rafah, Mesir)