Oleh Trias Kuncahyono dan Mustafa Abd Rahman
Perempuan Badui ber-burqa atau berhijab hitam itu duduk tanpa alas di tepi jalan, di depan sebelah kiri Pintu Gerbang Rafah. Kakinya pun tak beralas. Burqa hitamnya, yang kadang bagian wajahnya dibuka sebagian itu, sudah tidak hitam legam lagi karena debu menempel di sana-sini. Debu Gurun Sinai yang membuat sesak napas dan memicu bersin-bersin serta pedih di mata.
Fatma, nama perempuan Badui itu. Usianya lima puluh tahun, menurut pengakuannya. Namun, wajah dan kondisi fisiknya tampak lebih tua dan ringkih. Keriput-keriput di wajahnya begitu jelas. Hidup di kawasan Gurun Sinai yang gersang, yang sangat panas di musim panas, dan sangat dingin di musim dingin, membutuhkan ketahanan fisik yang luar biasa; membutuhkan kecerdikan bagaimana menundukkan alam untuk bisa tetap hidup; kecerdikan untuk menyiasati hidup.
Ketika peluang datang, saat itu pula harus diambil karena peluang tidak akan pernah kembali dalam bentuk yang sama. Itulah yang dilakukan Fatma. Ketika di depan Pintu Gerbang Rafah berkumpul begitu banyak orang—para wartawan dari berbagai negara—yang belum bisa masuk Jalur Gaza, ia memanfaatkan peluang dan kesempatan itu untuk berdagang. Di tempat yang jauh dari mana-mana itu, apa pun yang dijual orang akan laku. Apalagi, orang-orang yang diliputi kekecewaan, frustrasi, amarah, sebal karena menunggu sesuatu yang tidak jelas kapan akan muncul izin dari Pemerintah Mesir dan Israel untuk masuk masuk ke Jalur Gaza.
Satu-satunya warung minum dan camilan yang ada di tempat itu laris manis. Dan, dagangan Fatma, susu sapi, kacang, dan biji labu (kuaci) pun laris manis.
Susu sapi masih segar itu dijual 4,5 pound atau sekitar Rp 8.000 per botol plastik seukuran 1,5 liter. Botol plastik itu bekas botol air mineral. Masih tertera di botol itu tulisan warna putih di atas dasar warna merah berbunyi ”Aqua, Delta” dan tulisan warna putih di atas dasar hijau berbunyi ”Natural Pure Water”.
Tidak lama setelah dipajang, empat botol itu terjual habis. Sebotol dibeli seorang wartawan televisi Indonesia dan tiga botol dibeli wartawan Mesir. ”Habis minum, perut saya mules dan kepala agak pening. Mungkin susu itu belum dimasak,” kata wartawan asal Indonesia itu. Kami yang mendengar tertawa.
Fatma juga menjual kacang tanah. Ada sekantung plastik kacang tanah seberat satu kilogram yang dijajakan. Ia mengaku membawa beberapa kantung yang dimasukkan dalam tas plastik hitamnya. ”Kalau kacang ini harganya 30 pound (sekitar Rp 60.000),” katanya.
Empat perempuan
Lima meter di sebelah kiri Fatma, di trotoar, empat perempuan Badui lainnya duduk menggelar dagangan mereka. Ada yang menjual tiga bungkus kacang tanah dan dua bungkus kuaci. Ada yang hanya menjual tiga kantung plastik kurma seberat satu kilogram per kantung. Ada yang hanya menjual kuaci.
Yang satu lagi, dagangannya lebih lengkap. Ia menjual empat kantung plastik kacang tanah, tiga kantung plastik kuaci, dan tiga botol plastik minyak zaitun yang masing-masing botol seukuran 1,5 liter.
Semula keempat wanita itu menolak difoto. Namun, ketika ditanya berapa harga barang dagangannya, mereka tak keberatan difoto karena mungkin mengira dagangannya akan dibeli. Sekantung plastik kurma seberat satu kilogram dijual dengan harga 6 pound atau sekitar Rp 12.000. Kuaci sekantung—satu kilogram—dijual 10 pound (sekitar Rp 20.000). ”Minyak zaitun ini 30 pound per botolnya,” kata salah perempuan itu, yang menolak menyebut namanya.
Kadang keempat perempuan itu terlibat pembicaraan seru dan berteriak-teriak dari balik burqa (pakaian perempuan yang menutup seluruh tubuhnya, dari kepala hingga kaki) hitamnya. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Seorang lelaki, wartawan Mesir, yang duduk di depan mereka tersenyum-senyum sambil geleng-geleng kepala mendengarkan pembicaraan keempat wanita Badui itu.
Fatma lebih dahulu meninggalkan Pintu Gerbang Rafah; meninggalkan kawan-kawannya. Ia berjalan terseok-seok menyeret kantung plastik besar yang berisi segala macam barang dalam tas plastik. Ia tak peduli menerobos kerumunan wartawan yang masih menunggu ”kabar gembira” dari Pemerintah Mesir. Ia juga tak peduli ketika kantung plastik besarnya menyenggol kamera televisi yang ditaruh di atas ransel. Si empunya kamera, wartawan televisi asal Spanyol, hanya bisa terbelalak melihat itu.
Dagangan habis terjual. Selesailah sudah bagian dari perjuangan hidupnya hari itu. Empat botol susu dan sekantung plastik kacang tanah yang terjual memberi andil menyambung napas hidupnya. Teman-temannya—empat perempuan—masih sibuk menunggui dagangan. (Trias Kuncahyono/ Mustafa Abd Rahman, dari Rafah, Palestina)