Tradisi tahun baru Imlek selalu dikaitkan dengan pemberian angpao atau amplop merah berisi uang yang dibagikan kepada kerabat, kenalan, bahkan orang tak dikenal. Jumlah dan wujudnya pun beragam, mulai dari puisi, recehan tak seberapa, sampai bisa digunakan sebagai modal usaha. Namun, bukan jumlah yang menjadi maksud utama.
Di balik amplop merah ini tersembunyi pesan kemanusiaan yang mendalam: inilah saatnya berbagi rezeki dan kebahagiaan.
Berasal dari dialek Hokkian, arti harfiah angpao memang begitu sederhana, yaitu ang merah dan pao amplop atau bingkisan merah. Namun, secara filosofi angpao bermakna sebagai wujud syukur atas rezeki selama setahun terakhir yang telah berganti sekaligus ajaran untuk menularkan rezeki dan kebahagiaan. "Angpao merupakan wujud ucapan syukur atas rezeki yang kita dapat selama setahun terakhir. Wujudnya adalah berbagi dengan orang yang lebih membutuhkan. Dari berbagi itu, timbul kebahagiaan baik yang mendapat rezeki atau yang membaginya," kata salah seorang tokoh masyarakat Tionghoa di Yogyakarta, T Harry.
Oleh karena itu, angpao biasanya diberikan oleh orang yang berstatus lebih tinggi. Bisa dari orangtua kepada anak, paman kepada kemenakan, majikan ke pegawai, bahkan kelenteng-kelenteng kerap membagi angpao kepada siapa pun yang datang saat perayaan Imlek. Bagi Tri Kuranto (46), salah seorang warga Tionghoa lainnya, tradisi pemberian angpao kepada sanak keluarga pada saat Imlek merupakan kewajiban. Selain berbagi rezeki, angpao bermakna merekatkan silaturahmi dan cinta kasih di antara anggota keluarga. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Imlek kali ini tak kurang dari 25 keponakan langsung yang masuk "daftar" orang yang harus diberi angpao oleh Tri. "Setelah sembahyang Imlek, seluruh keluarga besar kumpul di rumah anggota keluarga tertua dan pada saat itulah angpao dibagi-bagikan," kata Tri.
Tri menuturkan, tidak ada anggaran khusus untuk tradisi angpao itu karena sangat tergantung kondisi perekonomian juga. Kisarannya Rp 10.000-Rp 20.000 per orang. "Yang penting bukan nilainya, tetapi bentuk perhatiannya," kata wiraswastawan ini.
Hal senada dilakukan Tun Yulianto, Ketua Perkumpulan Urusan Kematian Jogjakarta. Setiap Imlek, Tun pasti memberikan angpao bagi anggota keluarganya yang lebih muda sebagai wujud kasih sayang. Tidak lupa, di hari yang dinanti-nantikan itu, Tun memberikan nasihat kepada anak-anaknya.
Jumlah angpao memang sangat beragam, mulai Rp 1.000 sampai Rp 100 juta. Jumlah ini sangat tergantung dari kemampuan, hubungan pemberi dan penerima angpao, sertatentu sajaniat. Angpao kerap juga menjadi sarana balas budi.
Namun, berapa pun jumlahnya, angpao mengandung satu harapan, yaitu menjadi titik tolak usaha. Dengan demikian, di tahun mendatang, sang penerima angpao itu juga bisa membagi kekayaan yang telah diterimanya kepada orang yang membutuhkan. Angpao dalam jumlah besar banyak digunakan sebagai modal usaha atau menyambung usaha yang sudah hampir gulung tikar karena kurang modal.
Margo Mulyo, pengurus Kelenteng Tjen Ling Kiong, Poncowinatan, Kranggan, Yogyakarta, mengemukakan, sebenarnya tidak ada kewajiban pemberian angpao pada saat Imlek. "emberian angpao merupakan tradisi sejak zaman nenek moyang, khususnya bagi mereka yang telah berkeluarga dan memiliki penghasilan," ujarnya.
Memberi amal pada perayaan Imlek memang telah lama dikenal dalam tradisi China. Begitu tuanya tradisi ini, hingga sulit dilacak lagi asal-usulnya. Namun, tradisi angpao, yaitu memberi uang dalam amplop merah, konon baru benar-benar dikenal saat pemerintahan Dinasti Ming atau sekitar abad ke-14. Hal ini mengingat uang kertas baru dikenal pada zaman itu.
Lebih suka puisi
Salah seorang panitia Pekan Budaya Tionghoa di Ketandan, Gutama Fantoni, menuturkan, angpao tidak harus berwujud uang melainkan bisa berupa puisi atau wejangan. "Namun, karena sebagian besar menganggap angpao berisi uang, ya akhirnya puisi dan wejangan menjadi jarang diberikan," tuturnya.
Bahkan, orang yang sudah mampu, menurut Fantoni, lebih senang menerima puisi atau wejangan dibandingkan dengan uang. Karena wejangan memiliki nilai yang lebih dalam, bisa menjadi pedoman hidup. Angpao pun tidak harus diberikan saat Imlek, melainkan juga saat hajatan maupun pembukaan usaha. Ada orangtua yang memberikan angpao kepada anaknya dengan maksud menjadi modal usaha.
Namun, tradisi yang telah demikian tua ini pun harus mengalah pada perputaran zaman. Menurut Harry, tradisi ini mulai pudar. Pemberian angpao semakin terbatas kepada kerabat atau kenalan. Dahulu, siapa pun yang datang ke kelenteng pada perayaan Imlek, tak peduli ras, suku, atau agamanya, akan mendapatkannya. "Maklum, sekarang cari rezeki semakin sulit," kata Harry.
Padahal, di zaman yang semakin sulit ini, ketika semakin banyak orang jatuh miskin, pesan dalam amplop merah itu terasa kian penting. (WER/ENG/IRE)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang