Sekolah Aktif Kembali

Kompas.com - 25/01/2009, 04:00 WIB

Trias Kuncahyono dan Mustafa Abd Rahman

BEIT LAHIYA, SABTU — Kehidupan di Beit Lahiya, sekitar 12 kilometer sebelah barat laut dari Gaza City atau 5 kilometer dari perbatasan Israel, Sabtu (24/1), kembali normal. Para pelajar kembali ke bangku sekolah. Toko-toko buka kembali. Stasiun pengisian bahan bakar umum juga mulai beroperasi.

Lalu lintas di jalan utama Beit Lahiya mulai ramai. Beit Lahiya adalah salah satu kota di Jalur Gaza yang dibom habis-habisan oleh pesawat-pesawat tempur Israel. Yang dihancurkan bukan hanya ratusan rumah, melainkan juga kebun-kebun anggur, jeruk, dan zaitun yang dibuldoser dan dilindas tank-tank militer Israel selama perang yang berlangsung 22 hari, mulai dari 27 Desember 2008 hingga 17 Januari 2009.

Pemandangan rumah hancur, termasuk sekolah-sekolah dan tempat ibadah, terlihat di mana-mana. Pabrik-pabrik dan gedung-gedung pemerintah pun dihancurkan Israel. "Lihat ini, rumah saya hancur berantakan. Saudara kandung saya, laki-laki, tewas kena bom Israel. Ia meninggalkan dua anaknya ini yang masih kecil-kecil. Umurnya belum lima tahun," tutur Chalida, di pinggiran Beit Lahiya.

Beit Lahiya menjadi salah satu sasaran utama gempuran Israel, selain Jabaliya, Distrik Zaitun, dan Tel Hawa. Distrik Beit Lahiya adalah daerah pertanian dan salah satu penghasil jeruk, zaitun, serta anggur di Jalur Gaza. Tank-tank Israel sempat menduduki wilayah ini.

Hari pertama

Sekolah Internasional Amerika di Gaza yang terletak di Latrata, kota kecil yang berdekatan dengan Beit Lahiya, juga hancur berantakan digempur Israel. "Saya senang bisa sekolah lagi. Dulu waktu perang saya tinggal di rumah, kemudian pindah ke sekolah di bawah PBB, dan pindah lagi ke rumah teman untuk mencari tempat yang lebih aman," kata Nihad (14) yang duduk di kelas 2 SMP di Beit Lahiya.

Ia mengungkapkan, meski mulai buka lagi, sekolah masih menempati tempat sementara di gedung sekolah lain karena gedung sekolah yang lama hancur akibat gempuran Israel. "Saya senang bisa masuk lagi karena sekolah ini adalah masa depan saya yang bisa mengubah nasib saya dan keluarga saya," kata Rimah (17), siswa kelas II SMA Tel Ribah, sekolah khusus putri di Beit Lahiya.

"Saya tak paham mengapa Israel membunuh anak kecil, kaum perempuan, dan para pelajar. Perang telah menghancurkan kami semua. Kampung kami hancur. Rumah-rumah hancur. Lahan-lahan pertanian hancur," katanya.

Ia menambahkan, "Saya sebenarnya menganggur, tidak sekolah selama perang itu beban. Karena saat masuk lagi seperti sekarang ini, saya punya banyak pekerjaan rumah yang menumpuk dan di sekolah ini pun hanya sementara. Karena gedung sekolah saya hancur digempur Israel," lanjut Rimah.

Menurut Nidhal (26), sopir taksi yang membawa Kompas ke Beit Lahiya, selama agresi Israel ke Jalur Gaza, banyak penduduk Beit Lahiya yang mengungsi ke Gaza City. Mereka berlindung di rumah-rumah keluarga mereka di Gaza City dan banyak pula yang berlindung di sekolah-sekolah milik PBB.

Suasana berbenah diri juga tampak di wilayah lain di Jalur Gaza. Para pegawai pemerintah mulai terlihat antre di anjungan tunai mandiri (ATM ) bank-bank yang tersebar di Gaza City untuk mengambil gaji mereka. Di salah satu sudut Jalan Omar Muhtar di jantung Gaza City, antrean panjang terlihat di depan ATM di Bank of Palestine.

"Saya baru bisa mengambil gaji sekarang setelah hampir dua bulan tidak mengambil gaji. Sekarang saya mendapat gaji dua bulan sekaligus," kata salah seorang pegawai yang antre.

Pegawai Pemerintah Palestina yang berjumlah sekitar 120.000 orang tersebut mendapat gaji dari Otoritas Palestina pimpinan Presiden Mahmoud Abbas di Tepi Barat.

Gaji para pegawai pemerintah yang berada di Jalur Gaza ditransfer melalui bank dan bisa diambil di ATM bank-bank yang tersebar di Jalur Gaza. Jumlah gaji mereka sebesar 400 dollar AS hingga 800 dollar AS (antara Rp 4,4 juta hingga Rp 8,8 juta) per bulan.

Hamas pegang kendali

Gaza City mulai semakin hidup. Tempat-tempat keramaian dan pusat-pusat pertokoan mulai lagi dikunjungi orang. Kegiatan bisnis di Jalan Wahdah, yang juga merupakan salah satu jalan utama di Gaza City, mulai semakin ramai.

Aparat keamanan dari Hamas terlihat pula berjaga-jaga dan mengontrol gedung-gedung pemerintah. Bahkan, polisi dari Hamas berjaga-jaga di depan gedung-gedung pemerintah yang hancur, seperti di depan gedung parlemen dan gedung polisi yang berada di Jalan Omar Muhtar.

Di Gerbang Rafah di sisi wilayah Palestina, polisi-polisi dari Hamas terlihat sibuk mengatur lalu lintas orang yang datang dan pergi dari Jalur Gaza ke Mesir atau sebaliknya.

Mantan juru bicara Pemerintah Hamas, Gazi Hamd, yang kini merupakan koordinator penerimaan bantuan kemanusiaan dari mancanegara ke Jalur Gaza, terlihat pula sibuk mengawasi masuk-keluar manusia dari dan ke Jalur Gaza.

Kembalinya kendali Hamas atas Jalur Gaza juga terlihat dari para pejabat Hamas yang sejak hari Jumat mulai membagi-bagikan uang sekitar 100 dollar AS atau sekitar Rp 1,1 juta kepada warga untuk memulai kembali kehidupan rutin mereka. Langkah ini merupakan bagian dari janji Hamas, sekaligus memperlihatkan bahwa mereka sudah mengendalikan Jalur Gaza.

Sejak gencatan senjata efektif 20 Januari, pihak Hamas menyatakan kemenangan mereka karena berhasil menahan serangan militer Israel. Presiden Suriah Bashar al-Assad, Sabtu, menyampaikan selamat kepada pemimpin Hamas, Khaled Meshaal, atas keberhasilan mereka dalam pertemuan di Damaskus, Suriah.

Hamas mendapat sumbangan dana 52 juta dollar AS untuk memulihkan kembali kehidupan di Gaza. Dana 1.300 dollar AS diberikan kepada keluarga dengan korban yang tewas, 650 dollar AS untuk yang cedera, 5.200 dollar AS untuk rumah yang hancur, dan 2.600 dollar AS untuk rumah yang rusak. Lebih dari 4.000 rumah hancur dan sekitar 20.000 rumah rusak akibat terjangan militer Israel. (Reuters/AFP/ppg)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau