Plus Minus Diet Populer

Kompas.com - 27/01/2009, 14:49 WIB

Saat memilih program diet, yang dicari tentu yang hasilnya cespleng. Tapi, tiap pola diet itu ada kelebihan dan kekurangannya. Agar tidak salah memilih, coba kenali dulu pola diet yang populer di kalangan pelaku diet.

Diet tinggi protein

Diciptakan oleh Dr. Robert Atkins pada tahun'70-an.

Aturan main: Meminimalkan asupan karbohidrat dan gula, serta menggantikannya dengan lebih banyak protein dan lemak.

Plus: Apabila asupan karbohidrat diminimalkan, tubuh akan langsung membakar lemak yang ada, sehingga metabolisme tubuh meningkat. Alhasil, berat badan bisa turun dengan cepat namun dengan cara natural.

Minus: Pada masa awal diet, bisa jadi ada fase di mana rendahnya asupan karbohidrat ini bisa memicu rasa letih berlebihan, sakit kepala, dan rasa tidak enak pada tubuh. Pasalnya, diet ini tidak menghitung kebutuhan kalori seseorang. Sehingga, timbul anggapan keliru bahwa pelakunya boleh mengonsumsi lemak atau minyak sesukanya. Padahal, lemak yang dimaksud oleh Atkins semestinya adalah jenis lemak 'baik' (lemak tak jenuh). Bila 'lemak' lantas diterjemahkan dengan bebas mengonsumsi gorengan atau jeroan, hal itulah yang berbahaya.,

Diet detoks

Diperkenalkan oleh ahli nutrisi dari Amerika Serikat, Dr. Paula Baillie Hamilton.

Aturan: Disarankan hanya mengonsumsi buah-buahan dan sayuran (yang organik lebih baik) selama jangka waktu tertentu, biasanya dalam keadaan mentah dan dibuatjus tanpa gula.Jangka waktu ini bisa beragam.

Plus: Membersihkan usus dari zat-zat berbahaya yang masuk ke dalam tubuh lewat makanan, minuman, maupun polusi. Sekaligus untuk memperbaiki sistem pembuangan tubuh, sehingga berat badan cepat menurun

Minus: Pusing, lemas, wajah tak segar (layu), dan kehilangan konsentrasi. Perlu diingat, tubuh sudah memiliki sistem detoksifikasi sendiri, yang berpusat di lever (hati). Karena itu, agar proses detoksifikasi sehari-hari berlangsung lancar, Anda tinggal mengonsumsi cukup sayuran dan buah-buahan secara rutin.

Diet south beach

Diperkenalkan oleh kardiolog Dr. Arthur Agatston,di wilayah Miami, Florida, AS.

Aturan: Diet ini harus dijalankan dalam tiga fase. Dalam fase pertama yang berlangsung selama 2 minggu, pelaku diet harus total menghindari karbohidrat yang mengandung kadar glikemik tinggi, seperti susu, gula, roti, nasi, pasta, dan lain-lain. Namun, mereka tak dilarang mengonsumsi daging, ikan, telur, keju, sayuran, dan kacang-kacangan dalam porsi normal.

Memasuki fase kedua, Anda mulai boleh mengonsumsi karbohidrat berglikemik sedang, misalnya ubi jalar, sampai berat badan yang diinginkan tercapai. Fase ketiga adalah fase mempertahankan berat badan (maintenance phase). Pada fase ini, Anda sudah diizinkan melahap sedikit roti gandum dan beberapa potong buah-buahan.

Plus: Awalnya didesain khusus untuk para penderita penyumbatan pembuluh darah jantung, diet ini akhirnya malah lebih populer sebagai cara penurunan berat badan yang ampuh.

Minus: Pada tahap sangat awal bisa saja memicu konstipasi atau susah buang air besar. Kalau Anda tetap berniat menjalankan diet ini, sangat dianjurakn mengonsumsi air putih yang cukup.

Diet Food Combining

Diet ciptaan Dr.William Howard Hay

Aturan : Makanan yang disantap harus diselaraskan dengan mekanisme alamiah fungsi tubuh manusia. Hal itu dimaksudkan untuk meringankan kerja pencernaan sekaligus efisiensi pemakaian energi.

Plus: Penggabungan makanan yang tepat akan menghasilkan kadar asam dan basa yang seimbang. Sehingga proses pencernaan dan metabolisme berjalan lancar. Sejauh semua zat gizi tercukupi (karena tak ada pantangan makanan apa pun), mestinya tak ada reaksi tubuh yang negatif.

Minus: Sejauh ini belum banyak dilakukan penelitian menyangkut diet ini, dalam kaitannya dengan usaha penurunan berat badan. Karena protein clan karbohidrat tidak boleh dicampur, maka harus dibuat perencanaan yang matang. Bagaimanapun,semua unsur tersebut dibutuhkan oleh tubuh.

Diet golongan darah

Diperkenalkan oleh ahli naturpati asal Amerika Serikat, Peter J. D'Adamo

Aturan: Setiap orang sebaiknya hanya mengonsumsi jenis-jenis bahan makanan yang sesuai dengan golongan darahnya. Sebagai contoh, orang bergolongan darah O dianjurkan mengonsumsi makanan tinggi protein tapi rendah karbohidrat, seperti daging merah dan seafood. Orang dengan golongan darah A, dianjurkan menjadi vegetarian, atau hanya mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat dan rendah lemak.Yang bergolongan darah B cukup beruntung bisa mengonsumsi makanan yang lebih variatif. Adapun mereka yang bergolongan darah AB sebaiknya menerapkan pola makanan gabungan antara golongan darah A dan B.

Plus: Setiap golongan darah memiliki respon yang berbeda-beda terhadap makanan yang masuk ke dalam tubuh.

Minus: Sejauh ini belum ada pembuktian yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, termasuk reaksi tubuh yang timbul. (Chic/Fatima Roeslan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau