Sri Sultan Bantah Membelot, Miliki Izin Kalla

Kompas.com - 28/01/2009, 17:54 WIB

JAKARTA, RABU — Kemesraan Megawati Soekarnoputri dan Sri Sultan Hamengku Buwono X yang diisukan akan berduet menjadi pasangan capres dan cawapres dalam pemilu mendatang mendapat kecaman dari pengurus Partai Golkar. Salah satunya, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Golkar Bidang Hukum Muladi yang menuding Sultan telah melanggar disiplin partai. Lebih dari itu, Sultan pun disebut telah membelot dari partai berlambang pohon beringin.

Menanggapi kegeraman Muladi ini, Sultan tak akan mempersoalkannya. Hal tersebut disampaikan istri Sultan, Gusti Kanjeng Ratu Hemas yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah asal Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Itu biar saja mereka bicara, tidak ada masalah. Masa itu dikategorikan sebagai pembelotan. Orang yang menyebutkan itu merasa terganggu saja," paparnya dengan tenang seusai rapat dengar pendapat dengan Panitia Ad Hoc (PAH) I Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Jakarta, Rabu (28/1).

Menurut dia, Sultan telah memperoleh izin dari Ketua Umum DPP Partai Golkar untuk maju sebagai capres 2009 mendatang. "Lho, ini kan sudah mendapat izin dari Pak Kalla. Yang penting itu. Jadi mau siapa pun bicara ya biarkan saja," sergahnya.

Lebih lanjut Hemas menambahkan, Sultan pun tidak ada niatan untuk mundur dari kepengurusan di Partai Golkar. "Tidak ada Sultan mundur, karena kita tidak membelot dari Golkar," urainya.

Perkembangan politik nasional yang semakin panas ini memicu Wakil Ketua DPP Partai Golkar yang juga Ketua DPR RI Agung Laksono mendesak DPP Golkar mempercepat penetapan pasangan calon presiden dan wakil presiden untuk pemilu 2009 pada rapat pertengahan Februari mendatang. Hemas mengaku, Sultan pun menerima undangan atas rapat yang akan digelar pada pertengahan Februari ini.

Terkait pinangan PDI-P sebagai cawapres, Sultan tidak memberikan pernyataan kesediaan. Bahkan, menurut Ratu Hemas, Sultan tetap bersikukuh tidak akan mencalonkan diri selaku orang nomor dua di Tanah Air pada Pilpres 2009.

"Beliau maju dengan deklarasi itu untuk menjadi capres, dan bukannya cawapres," kata Ratu Hemas. Ia menjelaskan, pertemuan Sri Sultan dengan Megawati Soekarnoputri beberapa kali sebelum Rakernas PDI-P merupakan pertemuan putra-putri tokoh bangsa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau