Cegah Penyebaran H5N1, Pakai Saja Air Bekas Cucian!

Kompas.com - 30/01/2009, 17:47 WIB

LAMONGAN, JUMAT — Dugaan kasus flu burung ditemukan di 29 desa di 11 kecamatan Kabupaten Lamongan. Sejak Desember hingga kini, sedikitnya tercatat 5.000 ayam mati. Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan dugaan flu burung ditemukan di sembilan kecamatan, yakni Kecamatan Maduran, Sekaran, Solokuro, Karanggeneng, Sukodadi, Turi, Sugio, Kalitengah, dan Pucuk. Kini kasus ini ditemukan di Kecamatan Karangbinangun dan Deket.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan Soeprayitno, Jumat (30/1), mengatakan, ayam yang mati tidak semuanya terinfeksi flu burung. Untuk mengetahui ayam mati akibat virus avian influenza atau bukan perlu uji laboratorium. Di Lamongan hanya puluhan ayam yang positif terserang virus H5N1 atau avian influenza, sebagian contoh ayam masih diuji di laboratorium peternakan di Tuban.

"Masyarakat jangan takut, memang ada ayam mati yang diduga terkena flu burung. Tetapi tidak otomatis setiap ayam yang mati terserang virus flu burung. Setiap musim hujan biasanya memang ayam mudah mati, bisa karena virus, tidak tahan kondisi cuaca buruk, atau terkena tetelo," katanya.

Menurut dia, ayam yang mati kebanyakan yang masih kecil-kecil bahkan ada yang baru berumur 5 hari. "Kami berupaya sosialisasikan kepada masyarakat lewat unit pelaksana teknis di setiap kecamatan agar ayam yang mati tidak dibuang di sembarang tempat, apalagi ke sungai," katanya.

Dia menambahkan, masyarakat juga tidak perlu khawatir sebab stok persediaan vaksinasi dan disinfektan untuk mencegah penyebaran flu burung tahun ini masih cukup. Untuk mengantisipasi penyebarannya, disemprotkan disinfektan ke kandang-kandang ayam yang terdeteksi positif.

Ayam-ayam yang positif terkena virus flu burung juga dimusnahkan dengan cara dibakar dan dimusnahkan (depopulasi). Sekretaris Camat Kalitengah Anton Sujarwo mengatakan, dua pekan lalu ada 164 ayam yang positif terinfeksi virus flu burung di Desa Pengangsalan dimusnahkan. Ayam itu telah dibakar lalu dikubur untuk mencegah penyebaran virus flu burung. "Sepekan terakhir ditemukan lagi ayam mati mendadak di Desa Kalitengah. Namun, sampelnya masih diuji laboratorium," kata Anton.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Pudji Hermawan menyatakan, kasus dugaan flu burung di Lamongan mencuat lagi sejak 17 Desember 2008. Saat itu puluhan ayam milik Siti, warga Desa Siwuran, Kecamatan Maduran, mati mendadak.

Pudji menyatakan, ayam yang terkena flu burung tersebut umumnya jenis ayam kampung. Sejak akhir 2008 lalu hingga kini, kasus dugaan atau suspek flu burung ditemukan di 29 desa 11 Kecamatan. Kasus itu ditemukan di Desa Siwuran, Parengan, Klagen Srampat, Jangkung Sumo, dan Mblubang, Kecamatan Maduran; Kabalankulon dan Batutengger (Sekaran); Sonoadi, Jagran, Guci, Kalinggreman, Kendal Kemlagi, Karangrejo, dan Rijekngablak (Karanggeneng).

Kasus serupa ditemukan di Desa Pengangsalan dan Kalitengah (Kalitengah); Sumber Agung dan Gedhangan (Sukodadi); Takerharjo (Solokuro), Karangwedoro, Sukoanyar, dan Mbalun (Turi) dan Ngombek (Pucuk) dan tiga desa di Kecamatan Sugio. Kasus terbaru ditemukan di Desa Putat Banjar (Karangbinangun) dan Sugihwaras (Deket).

Dia menegaskan, sampai hari ini penularan flu burung belum ditemukan menyerang manusia. Awalnya pada 19 Januari lalu Imrotul Muhibah (21), warga Glagah, Lamongan, sakit suspek (diduga) terkena flu burung dan dirawat di Rumah Sakit Umum Ibnu Sina Gresik. Korban akhirnya meninggal. Namun, hasil uji laboratorium menunjukkan pasien itu negatif flu burung.

Di perbatasan di wilayah Panceng, Kabupaten Gresik, seminggu lalu juga didapati ratusan ayam mati. Seorang pasien yang diduga terkena virus flu burung dirawat di RSUD Dr Soetomo, Surabaya. "Namun, hasil laboratorium menunjukkan pasien tersebut negatif flu burung dan sampel ayam masih diuji di Surabaya," kata Kepala Subbagian Pemberitaan Kabupaten Gresik Manuntun Sianturi.

Sejak 2006, di Gresik telah dibina ratusan kader sebagai vaksinator yang, jika sewaktu-waktu bantuannya dibutuhkan masyarakat, bisa melaksanakan penyemprotan. Sedikitnya, pada 2007 disiapkan 600.000 dosis vaksinasi dan 190 liter disinfektan. "Sejak 2008 hingga kini, jumlahnya kurang tahu persis, tetapi yang jelas ada persediaan vaksin dan disinfektan untuk antisipasi flu burung," kata Sianturi.

Masyarakat bisa melakukan pencegahan sendiri terhadap penyebaran virus H5N1. Caranya sangat mudah. Air bekas cucian yang mengandung deterjen bisa dijadikan disinfektan untuk disemprotkan ke unggas dan lingkungannya untuk menghentikan penyebaran virus H5N1 .

Selain kandang ayam, area berkumpulnya unggas liar atau burung piaraan juga perlu disemprot disinfektan. Cairan desinfektan disemprotkan ke tempat-tempat yang dicurigai sebagai mediator penyebaran virus H5N1. Di Kabupaten Gresik tercatat populasi ayam petelur 131.637 ekor, ayam potong 1.405.400 ekor, ayam buras 632.861 ekor, itik 26.337 ekor, dan entok/angsa 13.048 ekor.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau