Sosok dan pemikiran

PDK Bersemangat Hadirkan Pemerintahan yang Baik

Kompas.com - 31/01/2009, 03:46 WIB

Partai Demokrasi Kebangsaan memiliki visi spesifik, menghadirkan pemerintahan yang baik. Hal ini tak terlepas dari pendirinya, sekaligus Presiden PDK, yaitu M Ryaas Rasyid, ahli Ilmu Pemerintahan. Dalam buku yang diterbitkan Pusat Kajian Etika Politik dan Pemerintahan serta Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia, Ryaas disebut sebagai ”Penjaga Hati Nurani Pemerintahan”.

Hampir seluruh perjalanan hidup pria kelahiran Gowa, 7 Desember 1949, ini memang dihabiskan untuk mendalami bidang pemerintahan. Dia tak hanya menggeluti ilmunya, tetapi juga menjadi praktisi dan itu dilakukan setahap demi setahap.

Selain sebagai guru besar Ilmu Politik Institut Ilmu Pemerintahan, Jakarta, Ryaas juga pernah menjabat lurah di Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, Kota Ujung Pandang, serta menjabat Menteri Negara Otonomi Daerah (1999-2000) dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (2000-2001).

Pada tahun 2002 Ryaas mendirikan PDK. Tahun 2004 sampai kini dia menjadi anggota Komisi II DPR yang mengurusi pemerintahan. Berikut percakapan dengan Ketua Umum PDK itu di Jakarta, pekan lalu.

Apa yang membedakan PDK dengan partai politik lain?

PDK adalah satu-satunya partai yang visinya menghadirkan pemerintahan untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia dan keadilan setiap rakyat Indonesia. Lengkap, ada seluruh dan setiap. Tidak ada partai yang misinya serinci misi PDK. Misi keenam PDK, misalnya, adalah menjadikan sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, pertukangan, dan pariwisata sebagai prioritas pembangunan ekonomi yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pokok nasional dan perluasan kesempatan kerja.

Ini adalah rangkuman dari sektor yang dapat segera diperkuat tanpa perlu menunggu rakyat pintar dulu, sekolah dulu. Ini bisa dilakukan pada hari pertama pemerintah bekerja. Kalau ini dikembangkan selama dua tahun saja, bisa menciptakan puluhan juta lapangan kerja. Ini yang harus dioptimalkan.

Selama ini pertanian, perkebunan tidak dioptimalkan. Peternakan kita impor berjuta ton daging. Perikanan kita malah kehilangan ikan setiap tahun. Pertukangan juga masih impor mebel, mainan anak, dan banyak lagi macamnya. Pariwisata lebih konyol lagi. Indonesia negeri yang sangat menarik dan cantik, tetapi karena ada faktor yang tidak dipenuhi, seperti tak adanya jaminan keamanan, akses infrastruktur dan telekomunikasi tidak memadai, serta hotel tak seluruhnya bagus, turis tak mau banyak datang. Ini semua harus dibangun. Misi PDK sangat utuh.

Mengapa visi dan misi PDK belum banyak diketahui publik?

Kita tidak punya iklan. Partai ini tidak punya uang karena tidak punya penyelundup, konglomerat hitam, dan koruptor sebagai donatur. Keuntungan kami sebagai partai kecil, mana ada orang mau menyumbang partai kecil. Doa saya setiap hari, jangan beri saya uang, tetapi beri saya kemenangan. Karena kalau diberi uang, saya akan utang budi, sekarang saya tidak punya utang budi. Kalau kalah, juga tidak perlu disesali.

Namun, kompensasi dari tidak punya uang itu, kita punya semangat, kerja keras, dan doa. Partai ini seperti paguyuban besar. Setiap calon anggota legislatif berkorban mengeluarkan uang semampunya, ditambah uang dari pemerintah.

Menurut Anda, pemimpin seperti apa yang bisa menghadirkan pemerintahan yang baik itu?

Bangsa ini perlu pemimpin yang jujur-sejujurnya, rekam jejaknya transparan. Orang itu pernah punya kesempatan menyeleweng, tetapi tidak menyeleweng. Banyak orang tidak menyeleweng karena belum punya kesempatan. Prestasinya juga harus sudah diakui. Hasilnya harus sudah bisa dilihat. Orang itu dapat diakui hebat kalau sudah berbuat.

Komitmennya juga bisa dipercaya. Orang yang sering membohongi publik, pernah ingkar janji, pernah rapat mengambil keputusan tetapi saat gagal mengatakan pemerintah tak pernah tahu, orang seperti itu tidak jujur.

Yang khusus adalah bangsa ini juga membutuhkan orang yang dapat berkonsentrasi total untuk rakyat, tidak ada kesempatan mengarang lagu, tidak ada kesempatan membuat konser musik, tak ada banyak kesempatan untuk upacara. Dia harus bekerja keras memikirkan rakyat. Bukan upacara melulu dan pidato melulu. Bukan rapat berulang, tidak ada keputusan, dan tidak bisa ditindaklanjuti.

Anda butuh pemimpin yang tegas. Bukan yang bersandiwara, pemimpin yang ingin populer. Kalau perlu, dia itu berani dimaki-maki atau dibenci rakyat, bahkan didoakan biar mati oleh rakyat yang membencinya.

(Sutta Dharmasaputra)

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau